.:[Close]:.
Made by : Syahrul Ramadhon Dzul 'Izzah

Tafsir Al Munir Surat Al Baqoroh Ayat 221

  tafsir   3 Oktober 2012

Secara umum Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili menafsirkan surat al-Baqarah ayat 221 sebagai berikut: Ayat ini merupakan kumpulan hukum-hukum yang mengatur internal masyarakat Islam, tatkala Allah SWT mengizinkan pergaulan dengan anak-anak yatim, pernikahan,  Allah juga menjelaskan bahwa menikahi orang-orang musyrik adalah tidak sah.

Artinya adalah wahai orang-orang mukmin janganlah kalian menikahi perempuan-perempuan musyrik yang tidak memiliki kitab sampai mereka beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, dan membenarkan Muhammad SAW. Lafal musyrik dengan makna ini telah ada di dalam al Quran dalam firman-Nya

مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ

Artinya: “Orang-orang kafir dari ahlu kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu.”  (QS. al-Baqarah: 105)

Juga di dalam surat al-Bayinah ayat 1 yang berbunyi:

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

Artinya: “Orang-orang kafir yakni ahlu kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.”

Kesimpulannya janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik selama mereka dalam kemusyrikannya. Budak perempuan yang beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah itu lebih utama daripada wanita musyrik yang merdeka meskipun dia dari keturunan yang mulia, serta harta, kecantikan dan perangainya menyenangkan hatimu, karena kesempurnaan agama dan kehidupan adalah dengan iman, sedangkan harta dan ketenaran hanya merupakan kesempurnaan dunia saja. Penjagaan agama dan yang menyertainya dari kehidupan dunia itu lebih utama daripada penjagaan dunia.

Janganlah kalian menikahkan perempuan-perempuan yang beriman dari golongan kalian dengan orang-orang musyrik sampai mereka beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Karena kalian menikahkan mereka (wanita-wanita Muslimah) dengan budak yang hina namun beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya itu lebih baik bagi kalian daripada kalian menikahkan mereka dengan orang-orang musyrik yang merdeka meskipun nasab, keturunan, kemuliaan mereka menyenangkan hati kalian.

Sebab pengharaman pernikahan orang Muslim dengan wanita musyrik dan wanita Muslimah dengan laki-laki kafir baik dari golongan ahlu kitab maupun dari golongan musyrik adalah karena orang-orang musyrik baik laki-laki maupun perempuan itu mengajak kepada kekufuran dan mengamalkan setiap kejelekan yang dapat mengantarkan ke Neraka, karena mereka tidak memiliki agama yang benar yang memberikan mereka petunjuk, dan mereka juga tidak memiliki kitab samawi yang dapat menunjukkan mereka kepada kebenaran, serta menghilangkan karakter antara hati yang di dalamnya ada cahaya dan keimanan dengan hati yang gelap dan sesat.

Maka janganlah kalian menggauli mereka dan janganlah kalian menjadikan mereka keluarga, karena hubungan kekeluargaan itu mewajibkan campur tangan, nasihat, keharmonisan, kecintaan dan mengikuti mereka serta perpindahan pemikiran yang sesat dan taqlid dalam perbuatan dan kebiasaan yang tidak sesuai dengan syar’i, serta mereka tidak pernah lalai dari menganjurkan untuk berbuat sesat, melalui pendidikan keturunan atau anak-anak untuk mengikuti hawa nafsu dan kesesatan-kesesatan. Kesimpulannya adalah bahwa ‘illat[1] di dalam pengharaman pernikahan beda agama adalah karena ajakan mereka ke Neraka, sedangkan Allah SWT mengajak ke Surga serta memberikan petunjuk dengan kitab yang diturunkan dan nabi-nabi-Nya kepada hal yang dapat menyampaikan ke Surga dan kenikmatan-kenikmatannya, dan juga kepada ampunan dan menghapus dosa-dosa dengan izin Allah SWT.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa perkawinan seorang Muslim dengan perempuan musyrik seperti paganisme, budha dan atheis itu tidak sah. Adapun perkawinan dengan perempuan ahlu kitab (Yahudi atau Naṣrani) maka hal itu telah diperbolehkan syari’at dengan firman Allah SWT di dalam surat al-Maidah ayat 5 tersebut. Al-Mushonat artinya perempuan-perempuan yang menjaga diri.

Perbedaan antara musyrik dengan ahlu kitab telah jelas. Adapun orang-orang musyrik pada dasarnya mereka tidak beriman dengan agama, sedangkan ahlu kitab mereka sama seperti orang Muslim, mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, halal dan haram, serta kewajiban mengerjakan perbuatan baik dan utama serta menjauhkan diri dari kejelekan dan keburukan.

Syari’at membolehkan orang Muslim menikah dengan ahlu kitab dan tidak membolehkan pernikahan seorang Muslimah dengan ahlu kitab karena perkara yang jelas yaitu bahwasannya perempuan ahlu kitab bisa tetap berada dalam agamanya meskipun dia menikah dengan laki-laki Muslim dan juga tidak membahayakan agama suaminya, karena orang Muslim beriman dengan agamanya yang mengandung penetapan terhadap pokok-pokok agama yang lain, di antaranya agama Yahudi dan Naṣrani pada pokok-pokok yang utama dan selaras dengan Islam dalam dakwah kepada Tauhid dan keutamaan-keutamaan yang bersifat manusiawi, dan dia bersama orang Muslim berada dalam lingkaran luas yang dapat mencakup agamanya dan selainnya. Boleh jadi apabila dia telah tersentuh ruh toleransi dan muamalah yang baik dari suaminya dia akan hidup bahagia dan senang bersama suaminya tanpa membahayakannya.

Sebagaimana biasanya laki-laki memiliki pengaruh atas perempuan, yaitu pengaruhnya lebih kuat dari perempuan, maka apabila seorang ahlu kitab menikahi wanita Muslimah dimungkinkan akan mempengaruhinya sehingga dia meninggalkan agamanya, dan kebanyakan akan berbahaya terhadap pergaulan suaminya, karena tidak adanya keserasian dan keharmonisan baik lahir maupun batin sedangkan orang ahlu kitab tidak percaya terhadap Islam. Maka Muslimah tersebut akan berada pada lingkaran yang sempit, yaitu ruang kepercayaannya sedangkan Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam maka kemuliaan Muslimah akan menolak untuk menjadi istri ahlu kitab.

Inilah yang disepakati jumhur bahwa pernikahan seorang Muslim dengan perempuan ahlu kitab adalah makruh, dan pada waktu itu ayat ini di bawah pada kebiasaan yang khusus, yaitu musyrikah dengan makna yang sempit (penyembah berhala dan lain sebagainya) dan ayat ini tidak menjadi mansukh (dihapus) dan tidak pula yang dikhususkan, hanya saja ayat ini menghasilkan hukum: haramnya menikahi penyembah berhala dan wanita-wanita majusi (penyembah api). Ayat (وَالْمُحْصَنَاتُ) yang terdahulu menghasilkan hukum lain yaitu kebolehan menikahi perempuan ahlu kitab, maka tidak ada pertentangan antara keduanya, karena dhohirnya lafal al-Syirku tidak mencakup ahlu kitab. Karena firman Allah SWT

مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ

Artinya: “Orang-orang kafir dari ahlu kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu.”  (QS. al-Baqarah: 105)

Kemudian firman Allah

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

Artinya: “Orang-orang kafir yakni ahlu kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. al-Bayinah: 1).

Dalam lafal tersebut Allah membedakan antara mereka (ahlu kitab dan musyrik) dan dhohirnya ‘athof (sambungan) itu menghendaki perbedaan antara ma’tuf dan ma’tuf ‘alaihi. Dan juga kata al-Syirku bersifat umum dan tidak ada Na (teks)nya, firman Allah SWT ((وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ setelah lafal (وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ), maka tidak ada pertentangan antara al-Muhtamal (yang dikandung) dan la yuhtamal (yang tidak dikandung) dalam teks.

Sebagian ulama berpendapat bahwa lafal (الْمُشْرِكَاتُ) berarti umum untuk seluruh wanita musyrik baik dia itu penyembah berhala, Yahudi, atau Naṣrani dan ayat tersebut tidak dinasakh atau dikhususkan oleh sesuatupun, maka seluruh wanita tersebut haram untuk dinikahi oleh orang Muslim. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata: “Sesungguhnya ayat ini umum untuk wanita-wanita penyembah berhala, majusi dan ahlu kitab, dan setiap orang yang tidak beragama Islam maka haram menikahinya. Maka ayat ini menjadi nasikh (penghapus) bagi ayat yang ada di dalam surat al-Maidah” dan perkataan Ibnu Umar yang ada di dalam al-Muwatho’ menguatkannya: “Saya tidak mengetahui kesyirikan yang paling besar dari seseorang perempuan yang mengatakan bahwa Isa adalah tuhannya.” Dan diriwayatkan dari Umar bin al-Khotthob perkataan tentang pengharaman wanita ahlu kitab bahwa beliau memisahkan antara Tholhah bin Ubaidillah dan Hudaifah bin al-Yaman dari istri mereka yang ahlu kitab, lalu keduanya berkata: “Kami bercerai wahai Amir al-Mukminin dan janganlah engkau marah,” lalu Umar menjawab: “Kalau perceraian kalian boleh maka pernikahan kalian juga boleh, tapi aku memisahkan kalian pada perkara yang remeh.” Akan tetapi Ibnu ‘Atiyah berkata: “Ini sanadnya tidak bagus, aku menyandarkan darinya bahwa Umar ingin memisahkan antara keduanya tetapi Hudzaifah berkata kepadanya: “Apakah engkau mengira bahwa itu haram lalu aku melepaskannya wahai Amir al-Mukminin?” Umar menjawab: “aku tidak menganggapnya haram, akan tetapi aku takut engkau mengambil pelacur dari mereka.” Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas seperti itu. Ibnu Mundir menyebutkan kebolehan menikahi wanita ahlu kitab dari Umar, inilah yang dipegang umat dari al Quran dan sunnah Rasulullah

Kesimpulannya adalah bahwa sanad yang benar dari Umar adalah kebolehan laki-laki Muslim menikahi wanita ahlu kitab, hanya saja Umar memakruhkan pernikahan Tholhah dan Hudzaifah ra. dengan wanita Yahudi dan Naṣrani untuk berhati-hati agar manusia tidak mencontoh keduanya dan meninggalkan wanita Muslimah, atau karena ketakutan terjadinya pelacuran atau yang lain sebagainya dan hikmah adalah menjauhkan dari fitnah dengan mempertimbangkan kemaslahatan bagi kaum Muslimin secara umum.

Adapun wanita ahlu kitab harbiyah, menurut pendapat Ibnu Abbas yang demikian itu tidak boleh untuk dinikahi karena firman Allah SWT. (قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ) sampai firman-Nya (صَاغِرُونَ) (QS. at-Taubah: 29) Malik memakruhkan pernikahan laki-laki Muslim dengan wanita ahlu kitab harbiyah karena ‘illat meninggalkan anak di negeri harby dan karena perilakunya yang suka minum khomer dan memakan babi. Imam yang empat dan yang lainnya telah bersepakat mengenai pengharaman menikahi wanita majusi, karena firman Allah SWT (وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ) mereka adalah para penyembah berhala dan orang-orang majusi. Sedangkan para imam-imam telah sepakat tentang pengharaman kebolehan seorang wanita Muslimah menikah dengan laki-laki kafir karena pada yang demikian itu merupakan kecacatan atas Islam dan sebagaimana yang telah kami jelaskan tadi, dan juga karena berdasarkan ayat (وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ) artinya janganlah kalian menikahkan wanita Muslimah dengan laki-laki musyrik. Ayat tersebut menunjukkan bahwa tidak ada pernikahan tanpa wali dan inilah pendapat jumhur, karena Rasulullah SAW bersabda (لانكاح إلا بولي) “Tidak ada nikah tanpa wali.” Dan sabda Rasulullah SAW

لاَ تُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ وَلاَ تُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا فَإِنَّ الزَّانِيَةَ هِىَ الَّتِى تُزَوِّجُ نَفْسَهَا

Artinya: “Janganlah seorang perempuan menikahkan perempuan yang lain, dan janganlah seorang perempuan menikahkan dirinya sendir, karena sesungguhnya seorang pezina adalah orang yang menikahkan dirinya sendiri.’

Abu Hanifah membolehkan bagi perempuan untuk melangsungkan akad pernikahannya sendiri atau dengan wakil karena kesempurnaan kemampuannya dan karena sanad lafal nikah kepada perempuan pada banyak ayat, seperti pada ayat (حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجاً غَيْرَهُ) (QS. al-Baqarah: 230) dan juga pada ayat (فَلا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْواجَهُنَّ) “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya.” (QS. al-Baqarah: 232) maksud dari kata menghalangi adalah melarang perempuan untuk melangsungkan akad pernikahan tatkala dia memilih untuk menikah. Mereka membawa hadis (لانكاح إلا بولي) untuk kesempurnaan serta anjuran dan bukan untuk mewajibkan.

Pada akhirnya sesungguhnya kebolehan pernikahan laki-laki Muslim dengan wanita ahlu kitab selain Syi’ah adalah pengecualian pada suatu keadaan dan bukan pokok, oleh karena itu kami mencela penerimaan generasi muda atas pernikahan dengan ajnabiyah (orang asing) hanya karena terpesona oleh kecantikannya, dan memudahkan dalam urusan pernikahan, karena tanpa menyebutkan mahar, karena pernikahan ini biasanya akan merusak agama dan nasionalisme suami, dan dia akan memuliakan afiliasinya kepada negara dan kaumnya, dan perempuan tersebut akan mendidik anak-anak sesuai dengan keinginan dan agamanya, selain itu dengan pertimbangan keunggulan di sisinya dan meremehkan bangsa Arab dan kaum Muslimin, terkadang istri tersebut membunuh suaminya, dan terkadang juga istri tersebut akan mengambil anaknya serta meninggalkan suaminya di negerinya, dan sedikit sekali dari mereka yang beragana Islam, maka tidak ada yang diharapkan dari mereka.

Adapun pernikahan wanita Muslimah dengan selain orang Muslim maka hal tersebut sangatlah menyakitkan, karena pernikahan tersebut adalah batal dan haram sesuai kesepakatan kaum Muslimin, dan anak-anaknya adalah anak-anak zina, dan hubungan yang tegak antara dia dan suaminya tidak membolehkan bersenang-senang meskipun dalam waktu yang lama, karena batalnya pada pokoknya. Apabila dia menganggap halal maka dia telah murtad dan menjadi kafir. Dan tinggalnya dia di negeri kafir itu tidak membenarkan perkataan dengan pembebasan, karena haram bagi kaum Muslimin baik laki-laki maupun perempuan tinggal di antara orang-orang kafir  kecuali karena darurat atau kebutuhan yang mendesak atau sampai batas waktu yang ditentukan. Kami berlindung kepada Allah dari penyimpangan yang serius dan meremehkan dalam urusan agama.

Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munīr fi al-Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj, jilid 1, hlm 661-666


[1]Illat ialah suatu sifat yang terdapat pada ashal (pokok) yang menjadi dasar untuk menetapkan hukum pada ashal dan untuk mengetahui hukum pada cabang yang hendak dicari hukumnya. Drs. Miftahul Arifin dan Drs. H. A. Faishal Hag, Ushul Fikih, cet. ke-1 (Syrabaya, PT Bina Ilmu, 1997), hlm. 133

Tinggalkan Balasan