Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Baqoroh Ayat 221

  tafsir   3 Oktober 2012

Penafsiran Ibnu Kaṡīr ini dirujukkan langsung kepada Lubab at-Tafsir min Ibni Kaīr yang merupakan ringkasan dari Tafsir al Quran al-‘Aim atau yang lebih terkenal dengan Tafsir Ibnu Kaṡīr. Dalam menafsirkan surat al-Baqarah ayat 221 Imam  Ibnu Kaṡīr beliau mengatakan: ini adalah pengharaman bagi kaum Muslimin untuk menikahi wanita-wanita musyrik, para penyembah berhala. Jika yang dimaksudkan adalah kaum wanita musyrik secara umum yang mencakup semua wanita, baik dari kalangan ahlu kitab maupun penyembah berhala, maka Allah Ta’ala telah mengkhususkan wanita ahlu kitab melalui firman-Nya

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya: “(dan dihalalkan bagimu menikahi) wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu, bila kamu Telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (Tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.”

Mengenai firman Allah SWT (وَلاَ تَنكِحُواْ الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ) “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman.” Ali bin Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Dalam hal ini, Allah SWT telah mengecualikan wanita-wanita ahlu Kitab.”

Hal senada juga dikatakan oleh Mujahid,Ikrimah, Sa’id bin Jubai, Makhul, al-Hasan al-Bashri, aẓ-Ẓahak, Zaid bin Aslam, Rabi’ bin Anas, dan ulama lainnya.

Ada yang mengatakan: “Bahkan yang dimaksudkan dalam ayat itu adalah wanita musyrik dari kalangan penyembah berhala, sama sekali bukan wanita ahlu Kitab. Dan maknanya berdekatan dengan pendapat yang pertama.” Wallahu a’lam.

Setelah menceritakan ijma’ mengenai kebolehannya menikahi wanita ahlu Kitab, Abu Ja’far bin Jarir ra. mengatakan: “Umar melarang hal itu (menikahi ahlu Kitab) agar orang-orang tidak meninggalkan wanita-wanita Muslimah atau karena sebab lain yang semakna.”

Imam al-Bukhori meriwayatkan, Ibnu Umar mengatakan: “Aku tidak megetahui syirik yang lebih besar daripada seorang wanita yang mengaku Isa sebagai Rabb-nya.’

Firman Allah (وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ) “Sesungguhnya wanita budak yang beriman itu lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu..” as-Suddi mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Rowahah yang mempunyai seorang budak wanita berkulit hitam. Suatu ketika Abdullah bin Rowahah marah dan menamparnya, lalu ia merasa takut dan mendatangi Rasulullah SAW dan menceritakan peristiwa yang terjadi di antara mereka berdua (Abdullah bin Rowahah dan budaknya). Maka Rasulullah SAW bertanya: “Bagaimana budak itu?” Abdullah bin Rowahah menjawab: “Ia berpuasa, shalat, berwudhu’ dengan sebaik-baiknya, dan mengucapkan syahadat bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah SWT dan engkau adalah Rasul-Nya.” Kemudian Rasulullah bersabda: “Wahai Abu Abdullah, wanita itu adalah mukminah.” Abdullah bin Rowahah mengatakan: “Demi Allah yang mengutusmu dengan hak, aku akan memerdekakan dan menikahinya.” Setelah itu Abdullah pun melakukan sumpahnya itu, maka beberapa orang dari kalangan kaum Muslimin mencelanya serta berujar: “Apakah ia menikahi budaknya sendiri?” Padahal kebiasaannya mereka ingin menikah dengan orang-orang musyrikin atau menikahkan anak-anak mereka dengan orang-orang musyrikin, karena menginginkan kemuliaan leluhur mereka. Maka Allah SWT menurunkan ayat (وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ) “Seungguhnya wanita budak yang beriman itu lebih baik daripada wanita musrik musyrik, walaupun ia menarik hatimu..” (وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ) “Seungguhnya budak yang beriman itu lebih baik daripada orang musyrik, walaupun ia menarik hatimu..”

Dalam kitab shahih pun (al-Bukhori dan Muslim) telah ditegaskan dari Abu Hurairoh, dari Nabi SAW beliau bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Artinya: “Wanita itudinikahi karena empat hal: karena harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Pilihlah wanita yang beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

Hal senada juga diriwayatkan Imam Muslim, Jabir bin Abdullah, dari Umar, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَ خَيْرُ مَتاَعِ الدُّنْياَ المَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

Artinya: “Dunia ini adalah kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)

Dan firman-Nya (وَلاَ تُنكِحُواْ الْمُشِرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُواْ) “Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita Muslimah) sebelum mereka beriman.” Maksudnya adalah janganlah kalian menikahkan laki-laki musyrik dengan wanita-wanita yang beriman.

Sebagaimana Allah SWT juga berfirman ( لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ) “Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tidak halal juga bagi mereka.” (QS. al-Mumtahanah: 10)

Selain itu Allah SWT berfirman (وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ) “Sesungguhnya budak yang Mukmin itu lebih baik daripada orang musyrik waulupun ia lebih menarik hatimu.” Artinya seorang budak laki-laki yang beriman meskipun ia seorang budak keturunan Habasyi (Ethiopia) adalah lebih baik daripada seorang laki-laki musyrik meskipun ia seorang pemimpin yang mulia.

Kemudian ayat (اُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّار) “Mereka mengajak ke Neraka.” Maksudnya bergaul dan berhubungan dengan mereka hanya akan membangkitkan kecintaan kepada dunia dan kefanaannya serta lebih mengutamakan dunia daripada akhirat dan hal ini berakibat buruk. (وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ) “Sedang Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya.” Yaitu melalui syariat, perintah, dan larangan-Nya. (وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ) “Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”

Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdu al-Rahman bin Ishaq alu Syaikh, Lubab at-Tafsir min Ibni Kaṡīr, Alih Bahasa M. Abdu al-Ghofar E.M, cet. ke-1 (Jakarta, Pustaka Imam al-Syafi’i, 2009), jilid I, hlm. 427-429

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE