" Bung Karno"

” Bung Karno”

Gundul-gundul pacul cul gembelengan

Nyunggi-nyunggi wakul kul gembelengan

wakul glimpang segane dadi sak latar 2x

 

Diwaktu kecil dulu, mungkin dari kita (orang jawa khususnya) sering menyanyikan lagu ini. Salah satu dari sekian banyak lagu dolanan yang tanpa kita sadari ternyata lagu ini punya sebuah filosofi yang begitu “WOW”. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba kembali mengkaji sebuah lagu atau tembang dolanan yang katanya diciptakan oleh Sunan Kalijaga dalam upaya atau sarana penyebaran agama islam, meskipun mungkin sudah banyak tulisan-tulisan yang pada hakikatnya mempunyai kesamaan dengan tulisan saya ini.

Bait pertama berkenaan dengan lagu tersebut yaitu gundul-gundul pacul cul gembelengan. Secara garis besar seorang pemimpin itu disimbolkan dengan kepala, dan kepala tersebut merupakan lambang dari kehormatan. Seseorang yang sudah diberi gelar pemimpin bisa dibilang mempunyai kehormatan yang tinggi, namun kehormatan yang tinggi atau yang disimbolkan dengan kepala tadi, dan yang dimana keberadaan kepala biasanya sebagai tempat tumbuhnya rambut, rambut itu digunduli atau plontos karena rambut sendiri itu merupakan simbol dari sebuah mahkota. Dan dapat disimpulkan bahwa gundul mempunyai makna yaitu pemimpin yang tidak bermahkota. Sedangkan pacul mempunyai makna yaitu sebagai lambang orang kecil karena pacul atau dalam bahasa indonesia disebut cangkul sangat identik dengan alat pertanian yang digunakan oleh petani dan petani sendiri identik dengan orang keci dan disamping itu pacul juga mempunyai arti papat kang ucul yaitu berkenaan dengan Mata yang digunakan untuk melihat kesulitan rakyat, telinga digunakan untuk mendengar nasehat, hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan, dan mulut yang digunakan untuk berkata- kata yang adil. Sedangkan gembelengan mempunyai arti sombong atau bermain-main dengan kehormatannya karena dimana gembelengan yang dalam bahasa indonesianya yaitu mengayun-ayunkan kepala. Maka  Gundul-gundul pacul cul gembelengan mempunyai makna bahwa seharusnya seorang pemimpin itu harus peduli dan memperjuangkan keberadaan rakyatnya atau orang kecil dan tidak mementingkan mahkota kepemimpinan atau jabatan namun ternyata malah “gembelengan” atau sombong dengan selalu menjaga keempat inderanya yaitu mata, telinga, hidung dan mulutnya.

Bait kedua yaitu Nyunggi-nyunggi wakul kul gembelengan. Wakul atau bakul bisa dimaknai sebagai simbol dari amanah rakyat, karena wakul itu sendiri merupakan tempat untuk menyimpan nasi atau makanan bagi masyarakat pada umumnya. Maka dalam bait kedua tersebut mempunyai makna bahwa seorang yang diberi amanah atau pemimpin yang diberi kepercayaan (wakul) tersebut hendaknya menjunjung tinggi dan menjaga amanah yang diberikan oleh rakyat itu dengan sebaik-baiknya, bukannya sombong dengan jabatan kepemimpinannya itu. Sedangkan dalam bait terakhir yaitu Wakul nggelimpang segane dadi sak latar secara garis besar mempunyai artian amanah akan jatuh dan tidak akan memberi manfaat bagi rakyat

            Dari uraian bait-bait dalam lagu tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa “ Hendaknya seorang pemimpin itu tidak sombong, tidak mementingkan mahkota kepemimpinannya atau kursi jabatannya melainkan menjaga mata,telinga, hidung dan mulutnya, menjunjung tinggi semua amanah yang diberikan oleh rakyat kepadanya dan memperjuangkan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya, karena apabila ia tetap sombong dan angkuh karena merasa menjadi penguasa maka cepat atau lambat amanah yang telah diberikan oleh rakyat akan jatuh dalam kesia-siaan”

            Realita yang kita lihat sekarang ini sangat jauh dari harapan kita, banyak para pemimpin yang telah kita beri kepercayaan menjadi ingkar. Banyak dari mereka bukannya berusaha untuk mensejahterakan rakyatnya melainkan memperkaya diri dan membuat sengsara rakyat jelata. Membuat kebijakan-kebijakan “aneh” yang banyak merugikan rakyat dan menguntungkan pihak-pihak tertentu. Seharusnya Pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya yang senantiasa melayani rakyatnya dengan ikhlas seperti kisah kepemimpinan khalifah Umar Bin Khatab yang tentunya banyak dari kita sudah mengetahuinya. Seorang pemimpin terlebih-lebih pemimpin negara harus tahu dan mau belajar mengenai karakteristik dari masyarakatnya, dan hendaknya seorang pemimpin juga harus mempunyai 4 modal sikap atau sifat yang dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad, yaitu sidiq (benar), tablig (menyampaikan), fathonah (cerdas) dan amanah (menyampaikan). Jika keempat sifat ini ada dalam diri setiap pemimpin, maka dapat dipastikan negara yang dipimpinnya akan menjadi makmur. Dan perlu diingat, segala bentuk kesalahan-kesalahan yang mungkin telah dilakukan oleh pemimpin kita semoga bisa menjadi pembelajaran bagi kita, bagi generasi penerus bangsa untuk menjadi pemimpin yang adil dan bermartabat nantinya.

 

# “Negara Indonesia adalah negara yang sangat luar biasa, segala apa yang dibutuhkan ada di Indonesia. Dengan adanya pemimpin yang luar biasa pula maka bisa jadi Indonesia akan menjadi negara adidaya, negara yang tak akan takut oleh tekanan-tekanan dari negara lain dan mengalahkan negara Amerika yang katanya negara adidaya pada saat ini.”