Si Hitam, Si Merah dan Si Kecil Pembawa kemanfaatan

20130626_061527

Benar bisa berarti benar, salah bisa berarti salah dan benar bisa berarti salah, salah bisa berarti benar. Ah,,entahlah benar atau salah bukankah itu semua sama-sama disebut ukuran nilai ?. Si hitam selalu berbicara kebenaran dan si merah bertindak sebagai sirine pembenaran. Namun, terkadang si merah pun dengan angkuhnya mengubah asumsi-asumsi yang benar menjadi sesuatu yang salah. Ah,,entahlah toh benar atau salahnya si hitam dan si merah tergantung si kecil yang membawanya.

Warna selalu punya hak untuk memberikan pengertian. Tapi bukankah yang memberi pengertian pada warna untuk memberikan pengertian itu adalah dirimu sendiri? setelah Tuhan tentunya.. Tak perlu lagi kau berfikir hitam atau merah toh semua sama saja. Yang terpenting kau tanamkan benih-benih ilmu itu pada mereka (suatu saat nanti), karena si kecil adalah pembawa kemanfaatan. Si hitam tak akan pernah marah, dan si merah akan selalu tersenyum. Sayat luka si kecil diwaktu pagi akan menjadi penentu kemanfaatan bagimu, baginya, bagi mereka. (atau bahkan bagiku). Kau tentu tahu, “Gabah” akan mempunyai nilai jual tinggi ketika sudah “ditumbuk”. Ia hancur “kulitnya” dan lebih enak dimakan bila menjadi beras, dan akan memberi kemanfaatan yang lebih daripada “gabah”. Demikian juga si kecil, semakin kau berani untuk memangkasnya diwaktu pagi, maka ketika senja ia akan memberikan banyak kemanfatan karena titik tumbuh kemanfaatannya mencabang “melebat”.

Kau tentu bisa belajar lebih banyak dari si kecil tanpa harus menganggap bahwa kau tak bisa membaca. Si hitam itu akan bercerita tentang mimpi-mimpimu, dan si merah dengan aura membara akan mencerahkan langit apabila terlihat mendung. Sedikit banyaknya suatu kata, kalimat atau cerita toh yang membaca yang mempunyai kecenderungan untuk membuat pengandaian arti dan maknanya. Kata-kataku, kalimatku atau ceritaku telah didengar oleh Tuhanku bahkan sebelum aku ucapkan, aku tulis dan aku sampaikan. Si hitam tak akan lagi bertanya, si merah tak akan lagi tertawa (berlebihan) karena si kecil kini sudah tak lagi bersedih dan tahu apa yang harus ia dilakukan.

Kau oleh mereka

Kau oleh mereka,,

Tergambar makna dari manusia

Tak kan merajuk muram, ketika tak punya julukan

Tak kan merintih, ketika didera sedih

 

Kau oleh mereka

Hancur diwaktu pagi, tumbuh kembang ketika senja datang

Menjejak rindu kemanfaatan

Tersenyum riang, berikan kebahagiaan

 

Kau oleh mereka

Baginya hitam tak kan lagi bertanya, baginya merah enggan lagi tertawa

Si kecil kini mulai mengajarinya “membaca”

Dan aku mulai tersenyum melihatnya,,,,

 

Yogyakarta, 10 Desember 2013

Tentang Teguh Utomo 35 Articles
saya TEGUH UTOMO,
Kontak: Google+

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Lewat ke baris perkakas