ekonomi indonesia

Hanya Blog UMY situs lain

UK 2 perekonomian indonesia

Posted by 20160430173 0 Comment

Muhammad Kaisar Biaz

20160430173

 

Rini Sulistiawati (2012) Pengaruh Upah Minimum terhadap Penyerapan Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Masyarakat di Provinsi di Indonesia . Oktober 2012. Volume 8, Nomor 3.

Pencapaian kesejahteraan sosial sebagai tujuan akhir pembangunan membutuhkan penciptaan kondisi dasar, yaitu: 1) pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan; 2) penciptaan a sektor ekonomi yang kuat; dan 3) pembangunan ekonomi yang inklusif dan adil. Kesejahteraan sosial diharapkan akan tercapai jika ekonomi terus tumbuh giliran akan menciptakan lebih banyak kesempatan kerja dan menyerap lebih banyak tenaga kerja dengan upah yang adil. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti dan menganalisis pengaruh upah terhadap penyerapan tenaga kerja dan kesejahteraan sosial di provinsi di Indonesia Indonesia. Masa studi adalah lima tahun yaitu dari 2006 hingga 2010 dengan menggunakan data sekunder disediakan oleh Biro Pusat Statistik dalam bentuk kombinasi antara data deret waktu (dari 2006 hingga 2010) dan data penampang (33 provinsi di Indonesia) juga dikenal sebagai panel data.

Simpulan Berdasarkan analisis hasil studi dan pembahasan tentang pengaruh upah terhadap, penyerapan tenaga kerja serta kesejahteraan masyarakat provinsi di Indonesia, dapat ditarik simpulan sebagai berikut: 1. Upah berpengaruh signifikan dan mempunyai hubungan yang negatif terhadap penyerapan tenaga kerja.. 2. Secara nasional, tenaga kerja yang mempunyai mempunyai produktivitas paling rendah terjadi di sektor primer, sementara sektor sekunder merupakan sektor yang paling sedikit menyerapa tenaga kerja tetapi mempunyai produktivitas pekerja yang paling tinggi yaitu sebesar 1.82. 3. Tenaga kerja di sektor primer pada umumnya mempunyai pendidikan yang rendah dengan produktivitas yang rendah pula, oleh karena itu kenaikan upah minimum akan berdampak pada berkurangnya penggunaan tenaga kerja di sektor ini.

 

 

 

I Gusti Agung Indradewa dan Ketut Suardhika Natha (2015) PENGARUH INFLASI, PDRB DAN UPAH MINIMUM TERHADAP  PENYERAPAN TENAGA KERJA DI PROVINSI BALI, Vol.4, No.8 AGUSTUS 2015

Pertumbuhan jumlah penduduk di negara Indonesia semakin lama semakin besar, begitu juga pertumbuhan penduduk di Provinsi Bali. Pertambahan jumlah penduduk tentu mengakibatkan bertambahnya jumlah  tenaga  kerja.  Jumlah  tenaga  kerja yang  bertambah akan  menjadi  masalah dalam dunia ketenagakerjaan apabila jumlah tenaga kerja yang ada tidak sebanding dengan jumlah permintaan tenaga kerja  yang mampu menyerapnya. Permasalahan ini menjadi penting mengingat erat kaitanya dengan pengangguran. Tingginya angka pengangguran nantinya akan meningkatkan probabilitas  kemiskinan,  dan  fenomena-fenomena  sosial-ekonomi  di  masyarakat  seperti kriminalitas dan fenomena-fenomena lainnya. Provinsi Bali dengan potensi pariwisatanya ternyata masih  memiliki  jumlah  pengangguran  yang  cukup  banyak. Penelitian  ini  memiliki  tujuan  untuk mengetahui  bagaimana  pengaruh  dari  tiga  faktor  yang  secara  teori  memiliki  pengaruh  terhadap

penyerapan tenaga kerja. Ketiga faktor tersebut di Provinsi Bali adalah inflasi, Produk Domestik  Regional Bruto (PDRB) dan upah minimum.“Data yang digunakan adalah data time series selama dua  puluh  tahun  yakni  dari  tahun  1994  sampai  dengan  tahun  2013.  Teknik  analisis  data  yang digunakan adalah regresi linear berganda dengan aplikasi EViews”.”Setelah pengujian dilakukan, hasil yang diperoleh adalah secara simultan, ketiga variabel bebas yang diuji memiliki pengaruh yang  signifikan,  sedangkan  secara  parsial,  Produk  Domestik  Regional  Bruto  (PDRB)  dan  upah minimum  memiliki  pengaruh  yang  positif  dan  signifikan  sementara  inflasi  memiliki  pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Provinsi Bali periode tahun 1994-2013

 

 

Maimun sholeh (2007)  PERMINTAAN DAN PENAWARAN TENAGA KERJA SERTA UPAH : TEORI SERTA   BEBERAPA POTRETNYA DI INDONESIA, Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 4 Nomor 1, April 2007

 

Masalah tenaga kerja adalah masalah yang sangat kompleks dan besar.  Kondisi kerja yang baik, kualitas outputyang tinggi, upah yang layak serta  kualitas sumber daya manusia adalah persoalan yang selalu muncul dalam bahasan tentang tenaga kerja disamping masalah hubungan industrial  antara pekerja dengan dunia usaha. Dapat dikatakan ketenagakerjaan di Indonesia hingga kini masih menghadapi beberapa ketidakseimbangan  baik struktural ataupun sektoral. makasalah satu sasaran yang perlu  diusahakan adalah meningkatkan dayaguna tenaga kerja. Permintaan  Tenaga kerja yang dipengaruhi oleh nilai marjinal produk (Value of Marginal Product, VMP), Penawaran Tenaga Kerja yang dipengaruhi oleh  jam kerja yang luang dari tenaga kerja individu serta upah, secara teoretis  harus diperhatikan agar kebijakan-kebijakan yang dilakukan mendekati  tujuan yang diinginkan.

Dapat dikatakan ketenagakerjaan di Indonesia hingga kini masih menghadapi beberapa ketidakseimbangan baik struktural ataupun sektoral. Walaupun telah terjadi pergeseran namun sebagian besar angkatan kerja Indonesia masih bekerja di sektor pertanian. Dalam hubungan ini, maka salah satu sasaran yang perlu diusahakan adalah meningkatkan daya guna tenaga kerja. Untuk mewujudkan pendayagunaan tenaga kerja maka perlu dilaksanakan berbagai kebijaksanaan perluasan lapangan kerja produktif. Sasaran utama kebijaksanaan adalah menciptakan kondisi dan suasana yang bukan saja memberi ruang gerak inisiatif yang sebesarbesarnya kepada para pelaku ekonomi tetapi juga sekaligus mendorong serta membantu perkembangan usaha-usaha kecil, usaha-usaha di sektor informal dan -usaha tradisional.

 

 

Erliz Nindi dan Rifa Atun Mahmudah (2015) , PENINGKATAN DAYA SAING TENAGA KERJA INDONESIA MELALUI KORELASI INPUT PENUNJANG TENAGA KERJA DALAM MENGHADAPI MEA 2015

 

Indonesia  adalah  negara  dengan  jumlah  penduduk  terbanyak  di  Asia Tenggara. Pertumbuhan penduduk Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga jumlah angkatan kerja juga terus meningkat. Hal tersebut menimbulkan masalah  ketenagakerjaan  karena  tidak  adanya  keseimbangan  antara  permintaan dan penawaran tenaga kerja dalam negeri.

Akan  dimulainya  MEA  2015  akan  memberikan  dampak  positif  dan negatif  bagi  Indonesia.  Liberalisme  pasar  bebas  barang  dan  jasa  akan  memacu investasi  dalam  negeri  dan  menarik  tenaga  kerja  asing  ke  Indonesia.  Masuknya tenaga  kerja  asing  ke  Indonesia  dimungkinkan  dapat  menjadi  ancaman  apabila tenaga kerja Indonesia tidak mempunyai daya saing yang sebanding.

Oleh  karena  itu,  peningkatan  daya  saing  tenaga  kerja  harus  dilakukan jauh hari sebelum MEA 2015 benar-benar dimulai. Hal tersebut dapat di antisipasi dengan  mengkorelasikan  input  penunjang  tenaga  kerja  sehingga  tenaga  kerja Indonesia memiliki kesiapan mental dan kemampuan.

Secara kuantitas, jumlah penduduk Indonesia  memang  jauh lebih banyak dibandingkan  dengan  negara-negara  lain  dalam  ASEAN.  Namun,  persaingan secara kuantitas tidak akan memenangkan persaingan ketika kualitas  masih  jauh dibawahnya.  Oleh  karena  itu,  masalah  tenaga  kerja  Indonesia  bukan  hanya menyangkut jumlah dan kesempatan kerja saja, melainkan juga kualitasnya yang masih  rendah  (Mamat  Ruhimat  :  2011).  Maka  perlu  adanya  evaluasi  terhadaptenaga  kerja  Indonesia  sebagai  upaya  meningkatkan  kualitas  tenaga  kerja Indonesia.  Hal  tersebut  dilakukan  agar  tenaga  kerja  Indonesia  mempunyai  daya saing yang tinggi dengan  tenaga kerja asing di pasar lokal maupun pasar global.Tetapi sebagai bangsa yang besar, kita harus tetap optimis bahwa MEA 2015 akan meningkatkan  perekonomian  kita  seperti  visi  ASEAN  :  One  Community, Many Opportunitie.

 

 

 

 

 

febryana rizqi wasilaputri (2016) , PENGARUH UPAH MINIMUM PROVINSI, PDRB DAN INVESTASI TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA DI PULAU JAWA TAHUN 2010-2014, Jurnal Pendidikan dan Ekonomi, Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016

Pulau Jawa sebagai pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia tidak terlepas dari masalah ketenagakerjaan. Masalah yang dihadapi diantaranya peningkatan angkatan kerja yang lebih tinggi daripada penyerapan tenaga kerja. Upaya peningkatan penyerapan tenaga kerja tentunya tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, seperti upah minimum provinsi, PDRB dan investasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh upah minimum provinsi, PDRB dan investasi terhadap penyerapan tenaga kerja di Pulau Jawa tahun 2010-2014 baik secara parsial maupun simultan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian asosiatif kausal dengan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan adalah data sekunder 6 provinsi di Pulau Jawa (DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur) tahun 2010-2014.

Analisis yang digunakan adalah analisis regresi data panel dengan model regresi fixed effect. Data diolah dengan menggunakan Eviews 8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

1) Upah minimum provinsi secara parsial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja;

2) PDRB secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja;

3) Investasi secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja;

4) Upah minimum provinsi, PDRB dan investasi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja

 

 

 

Edy Priyono (2012) SITUASI KETENAGAKERJAAN INDONESIA DAN TINJAUAN KRITIS TERHADAP KEBIJAKAN UPAH MINIMUM , Jurnal Analisis Sosial Vol. 7, No. 1, Februari 2002.

Dapat dikatakan, bahwa hingga saat ini kebijakan upah minimum merupakan satu-satunya kebijakan pemerintah Indonesia yang secara langsung dan eksplisit dikaitkan dengan upah buruh. Tidak mengherankan, jika semua pihak (pemerintah, serikat buruh, LSM) menempatkannya sebagai isyu sentral. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap upah minimum merupakan obat mujarab (panasea) bagi persoalan kesejahteraan pekerja, dan pada gilirannya kesejahteraan rakyat. Tujuan utama tulisan ini adalah memberikan tinjauan kritis terhadap kebijakan upah minimum di Indonesia. Hal itu dilatarbelakangi oleh pemahaman teoretis dan empiris sekaligus, yang menunjukkan bahwa upah minimum tidak selalu menjadi jawaban yang tepat bagi persoalan upah buruh. Situasi itulah yang menyebabka kebijakan upah minimum masih terus menjadi kontroversi, bahkan di negara maju sekalipun2 . Pembahasan dalam tulisan ini akan diawali dengan gambaran tentang situasi ketenagakerjaan di Indonesia, disusul dengan kajian teoretis tentang dampak kebijakan upah minimum pada berbagai struktur pasar. Bagian selanjutnya merupakan tinjauan kritis yang merupakan analisis terhadap kebijakan upah minimum dikaitkan dengan situasi ketenagakerjaan. Tulisan akan ditutup dengan kesimpulan dan usulan terkait tentang kebijakan pengupahan

 

Sumber :

file:///C:/Users/aldo%20surya/Downloads/14385-1-28774-1-10-20150916%20(3).pdf

http://rechtsvinding.bphn.go.id/ejournal/index.php/jrv/article/view/44/46

https://journal.uny.ac.id/index.php/jep/article/view/618/475

http://repo.unsrat.ac.id/207/1/KESIAPAN_TENAGA_KERJA_INDONESIA_DALAM_MENGHADAPI_PERSAINGAN_DENGAN_TENAGA_KERJA_ASING_FRANKIANO_B.pdf

https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/31098152/Upah_Minimum.pdf?AWSAccessKeyId=AKIAIWOWYYGZ2Y53UL3A&Expires=1543047573&Signature=%2BotGu9nwcupU2VV%2BzHOHEggdhdM%3D&response-content-disposition=inline%3B%20filename%3DSituasi_Ketenagakerjaan_Indonesia_dan_Ti.pdf

Categories: Tak Berkategori

PROFIL AKU

20160430173


Popular Posts

Halo dunia!

Selamat datang di Blog UMY. Ini adalah tulisan pertama Anda. ...

tugas resume

A. Setelah semester 5 ini selesai yang saya harapkan dari diri ...

UK 1 Perekonomian In

1. Badan Pusat Statistik ( BPS) melaporkan, produk domestik bruto ( ...

UK 2 perekonomian in

Muhammad Kaisar Biaz 20160430173   Rini Sulistiawati (2012) Pengaruh Upah Minimum terhadap Penyerapan ...

tingkat angkatan ket

Muhammad Kaisar Biaz  R S 20160430173 Tingkat angkatan ketengakerjaan Pertumbuhan ekonomi juga sebagai ...