Posisi Duduk Ketika Tasyahud Awal dan Akhir

  Pendidikan Ibadah, Uncategorized   January 4, 2012

Sebelum membahas pokok permasalahan, kita semua tahu bahwa shalat bagi umat Islam memiliki arti yang sangat penting, selain karena shalat itu diperintahkan langsung oleh Allah SWT kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW pada malam Isra’ Mi’raj, juga karena shalat ini merupakan ibadah yang pertama kali dihisab pada hari akhir nanti. Oleh sebab itu, maka semua ummat muslim harus senantiasa mendirikan shalat dan memperhatikan tatanan atau cara-cara shalat sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Namun saat ini, yang terjadi di kalangan ummat muslim sering kita melihat beberapa perbedaan dalam tata cara pelaksanaan shalat, terutama dalam posisi duduk ketika tasyahud awal dan tasyahud akhir. Contohnya, ketika melaksanakan shalat subuh atau shalat sunnah yang hanya berjumlah dua rakaat, sering kita melihat perbedaan, ada yang duduk iftirasy (meletakkan pantat di atas telapak kaki kiri) ketika tasyahud akhir, ada juga yang duduk tawarruk (menyilangkan kaki kiri sehingga telapak kaki kiri berada dibawah betis kaki kanan) ketika tasyahud akhir.

Tetapi juga sering muncul pertanyaan, bagaimanakah posisi duduk bagi makmum yang masbuq? Apakah tetap mengikuti posisi Imam ketika itu, atau tetap duduk sebagaimana mestinya, artinya ketika Imam duduk tasyahud akhir menggunakan tawarruk, sedangkan makmum duduk biasa (Iftirasy) karena makmum belum tasyahud akhir, karena masih akan menyempurnakan shalatnya.

Oleh karena itu sesuai dengan beberapa permasalahan di atas, maka ada beberapa pendapat ulama’ terutama ulama’ empat madzhab, yaitu:

  1. Penadapat Imam Hanafi dengan yang sepaham

Mereka mengatakan bahwa duduk dalam shalat adalah mutlak iftirasy, baik ketika duduk di antara dua sujud, tasyahud awal maupun tasyahud akhir. Mereka mengutip dari Hadits ‘Aisyah r.a yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Beliau Rasulullah mengucapkan tahiyyat pada setiap dua rekaat/rekaat kedua, saat itu beliau hamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.” (Shahih Muslim no. 498).

  1. Pendapat Imam Malik dan yang sepaham

Mereka berpendapat bahwa duduk dalam shalat adalah tawarruk, baik itu ketika duduk di antara dua sujud, tasyahud awal maupun tasyahud akhir. Mereka mengutip dari Hadits Abdullah Ibnu Umar r.a yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Bahwasanya sunnah shalat (ketika duduk) adalah engkau tegakkan telapak kaki kananmu dan melipat yang kiri! (Shahih al-Bukhari no.793, bersama Fatul Bari).

  1. Pendapat Imam Ahmad dan yang sepaham

Mereka berpandangan bahwa shalat yang memiliki satu tasyahud dengan yang memiliki dua tasyahud cara duduknya berbeda. Shalat yang memiliki satu tasyahud, duduk akhirnya sama dengan cara duduk di antara dua sujud, yakni iftirasy. Sementara bila shalatnya memiliki dua tasyahud, maka tasyahud awal dengan cara iftirasy, sedangkan yang kedua dengan cara tawaruk. Ini merupakan pendapat yang masyur dari Imam Ahmad.

  1. Pendapat Imam Syafi’I dan yang sepaham

Mereka berpandangan bahwa duduk yang bukan duduk tasyahud akhir adalah iftirasy, sedangkan duduk yang dilakukan pada tasyahud akhir dengan tawaruk. Tidak dibedakan antara shalat yang memiliki dua tasyahud ataupun satu tasyahud.

Imam Syafi’I dan Imam Ahmad sebenarnya mereka membangun pendapatnya atas dasar dalil yang sama, namun mereka berbeda pendapat dalam menyikapi duduk akhir antara shalat  yang memiliki satu tasyahud dengan shalat yang memiliki dua tasyahud.

Ibnu Rusyd menggambarkan pandangan Imam Syafi’I, bahwa untuk tasyahud awal, mereka mengambil pendapat Hambali sedangkan untuk tasyahud akhir, mereka mengambil pendapat dari Maliki (Bidayatul Mujtahid, 261).

Sedangkan untuk posisi duduk makmum yang masbuq, Imam Ahmad bin Hambal dalam Masail Ibnu Hany, hal 79, al-Mughni 21/218 dan Majmu’3/430 mengatakan bahwa ketika makmum masbuk pada shalat dua raka’at maka duduknya tiada lain kecuali duduk iftirasy, sedangkan makmum yang masbuk dalam shalat yang lebih dari dua rakaat dan mendapati Imam sudah duduk tasyahud akhir, maka posisi makmum yang masbuk tidak lepas dari dua keadaan, yaitu: (1) Ia masbuk dua rakaat atau lebih, (2) Ia masbuk satu rakaat. Lanjut Imam Ahmad mengatakan bahwa jika makmum masbuk dua rakaat atau lebih maka duduknya adalah dengan iftirasy, sedamgkan makmum yang masbuk satu rakaat, maka duduknya adalah duduk tawarruk sama dengan duduknya Imam ketika tasyahud akhir. (www.an-nashihah. com)

 

Sebelum menyimpulkan beberapa pendapat ulama’ di atas, maka perlu diketahui apakah permasalahan ini termasuk dalam kategori ibadah ataukah muamalah, Shalat adalah termasuk ibadah sebab shalat merupakan hubungan langsung antara seorang hamba dengan Sang Khalik, oleh sebab itu maka digunakan kaidah fiqh yaitu:

الأصل فى العبادة البطلان إلا دل الدليل على خلافه

Artinya: “Pada asalnya, setiap ibadah itu hukumnya haram (bathal) kecuali ada dalil yang menyelisihinya (memerintahkannya)”

Artinya, ketika tidak ada dalil yang memerintahkan untuk melakukan sesuatu peribadatan tersebut, maka hukum melaksanakan ibadah tersebut adalah haram, sekarang kita kembali melihat permasalahan yang terjadi, perbedaan pendapat para ulama’ hanya mengenai tata cara pelaksanaannya yaitu posisi duduk ketika shalat dua rakaat dan posisi duduk makmum yang masbuk. Tidak ada perbedaan dalam hukum melaksanakan shalat, artinya perbedaan ini hanya permasalahan khilafiyah(perbedaan dalam memahami maksud dari suatu dalil) mengenai posisi duduk saat tasyahud, baik tasyahud awal ataupun tasyahud akhir  dan semuanya memiliki dalil yang kuat dan shahih, hanya beberapa dalil yang divonis sebagai hadits hasan disebabkan sanadnya, akan tetapi hadits hasan tersebut kemudian mendapat penguatan dari hadits yang shahih.

Oleh sebab itu, penulis menyimpulkan bahwa boleh untuk mengamalkan salah satu dari pendapat para ulama’ dan kembali pada diri kita masing-masing, artinya silahkan pilih dari salah satu pendapat ulama’ yang menurut keyakinan masing-masing bahwa pendapat itulah yang paling benar. Akan tetapi kita tidak boleh mengatakan (meyakini) bahwa apabila tidak duduk seperti yang dikatakan oleh imam tertentu maka shalat kita bathal, contohnya: Si A meyakini bahwa pendapat Imam Ahmad adalah yang paling benar, kemudian dia meyakini bahwa jika tidak melakukan posisi duduk seperti yang dikatakan oleh Imam Ahmad maka shalatnya bathal, hal semacam ini justru tidak dibenarkan dalam agama Islam sebab dalam hadits Nabi Muhammad SAW tidak dijelaskan secara rinci posisi duduk ketika shalat dua rakaat apakah iftirasy atau tawarruk yang ada hanya Nabi pernah melakukan duduk iftirasy dan tawarruk.

 

 

Leave a Reply