Dalil-Dalil Tentang Kebersihan

  Pendidikan Ibadah   January 12, 2012

Pada Postingan Sebelumnya, telah dituliskan bahwa kebersihan di dalam Islam sangat diperhatikan, bahkan kebersihan menjadi sebuah ibadah ketika dirangkaikan dengan ibadah mahdhah. Pada postingan kali ini, akan saya tuliskan dalil-dalil mengenai kebersihan.

Dalil-dalil Tentang Kebersihan

Dalam doktrin Islam, banyak sekali  kita temukan ayat yang menjelaskan tentang kesucian dan kebersihan. Sebagian besar pesan kebersihan dalam ayat-ayat Qur’ani dikaitkan dengan shalat, taubat, dan perintah menjauhi kemaksiatan. Misalnya, dalam Firman Allah SWT:

يا أيها الذين أمنوا إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى المرافق وامسحوا برءوسكم وأرجلكم إلى الكعبين وإن كنتم جنبا فاطهروا (الماءدة: 6)

“Hai orang-orang yang beriman, bila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapuhlah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah. (Q.S al-Maidah: 6).

Dalam satu ayat, yang menurut suatu riwayat merupakan ayat yang pertama kali turun, disebutkan perintah membersihkan pakaian.

يا أيها المدثر () قم فأنذر ( ) وربك فكبر ( ) وثيابك فطهر ( )

“Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu Agungkanlah! Dan Pakaianmu bersihkanlah. (Q.S al-Mudatsir).

Ath-Thabari mengatakan bahwa maksud dari kalimat “Pakaianmu Bersihkanlah”  adalah jangan kau gunakan pakaianmu dalam berbuat kemaksiatan dan penipuan. Berarti dalam hal ini, perintah membersihkan pakaian merupakan kinayah (kiasan) agar seseorang tidak berbuat dosa dan ingkar janji.

Fungsi dan hikmah diturunkannya air ke muka bumi adalah agar umat manusia mempergunakannya untuk bersuci. Dalam al-Qur’an dijelaskan:

إذ يغشيكم النعاس أمنة منه وينزل عليكم من السماء ماء ليطهركم به (الأنفال: 11)

“Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dari hujan itu.” (Q.S al-Anfaal: 11)

Kebersihan dan kesucian disebutkan berulang kali dalam AlQur’an. Ini membuktikan bahwa Allah sangat memperhatikan dan ingin mengukuhkan betapa pentingnya arti kebersihan bagi hamba-Nya. Rasulullah SAW menempatkan bersuci sebagian dari iman. Ini sesuai dengan hadits:

الطهور شطر الإيمان ( رواه مسلم )

“Kebersihan adalah sebagian dari (cabang) keimanan.” (H.R Muslim no: 223)

Yang dikehendaki dengan keimanan, menurut ath-Thaibi dalam hadits di atas adalah ‘cabang keimanan’. Dari jumlah cabang iman yang begitu banyak, bersuci adalah salah satunya. Pemahaman ath-Thaibi didasarkan pada sebuah hadits yang menaytakan “Keimanan itu berjumlah lebih dari tujuh puluh cabang”. Lebih jelasnya, at-Thaibi menuturkan, kebersihan lahir merupakan tanda akan kebersihan batin. Kondisi yang tampak (lahir) merupakan cerminan dari yang tidak tampak (batin). Jika membersihkan anggota lahir dapat mensucikan dari najis dan hadats, begitu pula kebersihan batin (dengan cara bertaubat) akan dapat menghantarkan pada kekuatan Iman kepada Allah. Karena alas an inilah, Allah merangkai taubat dengan kebersihan dalam Firman-Nya:

إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين (البقرة: 222)

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dang menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Q.S Al-Baqarah: 222)

Al-Ghazali memaparkan empat tingkatan dalam kebersihan. Yang pertama adalah kebersihan anggota lahir dari hadats dan kotoran-kotoran. Tingkat pertama ini adalah batas minimal yang harus dimiliki oleh setiap orang yang akan mengerjakan ibadah shalat. Tingkat kedua adalah kebersihan anggota tubuh dari dosa dan kejahatan. Ketiga, kebersihan hati dari akhlak tercela dan sifat-sifat yang dimurkai. Dan keempat, kebersihan sir (hati) dari selai Allah.

Keempatnya dianggap sama pentingnya dalam ajaran agama Islam. Namun demikian, dalam pandangan al-Ghazali dan para tasawwuf lainnya, tingkat keempat ini merupakan puncak dari berbagai tingkatan kebersihan yang ada di dalam Islam. Kebersihan hati sangatlah penting. Karena dengan hati yang bersih seseorang akan mudah tergerak untuk melakukan kebaikan. Oleh karena itu, kebersihan hati merupakan dasar segala perbuatan baik yang paling harus menjadi prioritas. Wallahu A’lam

 

 

 

Leave a Reply