berbagi ilmu yang bermanfaat

forum bebas untuk berekspresi

Kemenag vs Kemendikbud

Posted by wahyu budi nugroho 0 Comment

Kementerian Agama (disingkat Kemenag, dahulu Departemen Agama, disingkat Depag) adalah kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang membidangi urusan agama. Kementerian Agama dipimpin oleh seorang Menteri Agama (Menag) yang sejak tanggal 22 Oktober 2009 dijabat oleh Suryadharma Ali (Menurut Wikipedia). Kemenag mengurusi segala persoalan yang berhubungan dengan agama, termasuk pendidikan Islam. Contohnya saja bidang pendidikan yang dibawah Kemenag adalah fakultasku sendiri yaitu Fakultas Agama Islam, yang dimana terdapat 3 jurusan yaitu Pendidikan Agama Islam (PAI)/Tarbiyah, Ekonomi Perbankan Islam, dan Komunikasi Konseling Islam).

Sedangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (disingkat Kemendikbud) adalah kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang membidangi urusan pendidikan dan kebudayaan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dipimpin oleh seorang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang sejak tanggal 22 Oktober 2009 dijabat oleh Mohammad Nuh (menurut wikipedia). Kemendikbud ini mengurusi tentang segala jenjang pendidikan dan kebudayaan yang ada di Indonesia ini, contohnya saja kalau di UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) adalah Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Tekhnik, dan juga Sekolah-sekolah atau Universitas Negeri yang berada di bawah Kemendikbud.

Tapi disini saya tidak akan panjang lebar membahas tentang perbedaan kedua Kementrian di atas, karena yang akan saya bahas mengenai tidak maunya Kemenag bergabung dengan Kemendikbud, yang tentunya ini membawa banyak kerepotan dan masalah di dalamnya. Misalnya saja Program Kreatifitas Mahasiswa atau yang kita kenal dengan PKM. PKM adalam suatu program dimana kreatifitas mahasiswa dalam hal sesuatu mereka tuangkan menjadi sebuah proposal penelitian yang nantinya akan dilaksanakan dengan anggaran dari PKM itu sendiri. PKM adalah program dari Dikti dan dibawah Kemendikbud. Sehingga kalau fakultas yang dibawah Kemenag tidak bisa ikut dalam PKM ini.

Seharusnya program seperti ini tidak hanya lembaga pendidikan yang dibawah Kemendikbud saja yang boleh mengikuti, tapi juga Kemenag. Nah ini lah salah satu dampak tidak maunya Kemenag bersatu/bergabung dengan Kemendikbud. Kalau kata dosen saya “Nurwanto, S. Ag., MA, M. Ed. tidak maunya Kemenag bergabung dengan Kemendikbud adalah masalah dana/uang. Sehingga kalau Kemenag bergabung dengan Kemendikbud dana yang keluar dari pemerintah tidak banyak.

Lembaga pendidikan yang dibawah Kemenag tentunya juga mau mengikuti program seperti itu, karena itu adalah program yang sangat bermanfaat bagi Mahasiswa dan perkembangn Mahasiswa. Karena yang saya alami, saya dan teman-teman sudah antusias sekali mengikuti program ini, sampai-sampai saya dan teman-teman diantaranya Rafiq Ridho, Tanzilatul Inayah, Herli Septiawan, dan Yulia putri membuat 3 proposal penelitian sekaligus. Namun apa yang terjadi, proposal kami dan seluruh teman-teman FAI tidak bisa ikut dalam program ini, dikarenakan FAI berada dibawah Kemenag. Ini sangat mengecawakan dan merugikan kami.

Dari pihak Fakultas dan Universitas untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengikutsertakan proposal yang sudah dibuat dalam Milad FAI, dan tentunya dana yang keluarpun tidak sebesar dari dana yang dikeluarkan oleh dikti. Melihat kondisi yang seperti ini tentunya kami berharap agar kedepan Kemenag mau bergabung dengan Kemendikbud, agar persoalan/masalah seperti ini tidak terjadi lagi. Dan semua lembaga pendidikan dapat mengikuti program yang dilaksanakan oleh Kemendikbud, Kemenag, maupun Dikti, karena ini semua demi kemajuan Mahasiswa-Mahasiswi Indonesia.

PROFIL AKU

wahyu budi nugroho


Popular Posts

Tantangan Pendidikan

Teknologi modern telah memungkinkan terciptanya komunikasi bebas lintas benua, lintas ...

terapi untuk para ah

Fuad Baraja, siapa yang tidak kenal dengan orang satu ini. ...

Kehujanan???? ga lay

Musim hujan sudah tiba. . . yang menggantikan musim kemarau ...

Peringatan 1 Muharro

Dalam rangka memperingati 1 Muharrom 1434 H, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ...

"no day without writ

No day without writing, this is the sentence that we ...