berbagi ilmu yang bermanfaat

forum bebas untuk berekspresi

kenduriAgama dan budaya tentunya mempunyai hubungan yang sampai sekarang masih melekat, terlebih bagi masyarakat Jawa yang budaya Jawanya masih kental dengan berbagai ritual-ritual, acara adat yang sebenarnya semua itu tidak ada hubungannya dengan agama, melainkan hanya warisan dari budaya Hindu.

Budaya Hindu yang sampai sekarang masih dilakukan oleh umat Islam di Pulau Jawa ini antara lain Kenduri, Sesejen, peringatan pada wanita hamil seperti mitoni, peringatan 7 hari, 40 hari pada orang meninggal, dan masih banyak yang lain. Semua acara-acara tersebut apabila kita telusuri secara mendalam tidak dianjurkan dalam agama Islam, melainkan semua itu termasuk dalam ajaran agama Hindu. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa budaya hindu masih sangat kental di lingkungan masyarakat Islam di pulau Jawa ini.

Apabila kita menjadi seorang muslim yang cerdas, tentunya kita dapat memilah bahkan meninggalkan budaya-budaya hindu tersebut yang sejatinya bukan termasuk dalam ajaran agama Islam. Tetapi kenyataanya masyarakat Islam Jawa ini masih bersifat abangan, mereka tetap melakukan hal-hal tersebut dengan alasan meneruskan warisan leluhur.

Tentunya apabila kita fikirkan dengan nalar seorang muslim yang cerdas, alasan tersebut tidak dapat kita jadikan sebagai pegangan, melainkan harus ditelurusi terlebih dahulu seluk beluk tentang budaya itu sampai kita mengetahui secara mendalam dari mana asal budaya itu, untuk apa, dan apakah budaya itu termasuk dalam tuntunan ajaran Islam.

Pada kenyataannya, budaya-budaya tersebut tetap berasal dari Hindu, dan kita sebagai umat Islam harus meninggalkannya, karena umat Islam sendiri mempunyai pegangan yang jelas yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Hal-hal yang tidak terdapat dalam agama Islam tetapi dilakukan seperti budaya-budaya yang telah disebutkan diatas, maka semua itu termasuk bid’ah. Dalam sebuah hadits dikatakan,

 

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718).

Dalam pembahasan ini tidak akan dijelaskan semua tentang asal-usul budaya-budaya Jawa dari Hindu yang telah disebutkan diatas, namun disini yang akan dibahas secara mendalam adalah mengenai Kenduri.

Kenduri merupakan upacara ajaran Hindu. Masalah ini terdapat pada kitab sama weda hal. 373 (no.10) yang berbunyi “Antarkanlah sesembahan itu pada Tuhanmu Yang Maha Mengetahui”. Yang gunanya untuk menjauhkan kesialan.

“Sloka prastias mai pipisatewikwani widuse bahra aranggaymaya jekmayipatsiyada duweni narah”. Hal ini bertentangan dengan  Firman Allah : Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS. Adz-Dzariyat 51:57)

Juga terdapat pada kitab siwa sasana hal. 46 bab ‘Panca maha yatnya’. Juga terdapat pada Upadesa hal. 34, yang isinya:

a. Dewa Yatnya (selamatan)Yaitu korban suci yang secara tulus ikhlas ditujukan kepada Sang Hyang Widhi dengan jalan bakti sujud memuji, serta menurut apa yang diperintahkan-Nya (tirta yatra) metri bopo pertiwi.

b. Pitra Yatnya Yaitu korban suci kepada leluhur (pengeling-eling) dengan memuji yang ada di akhirat supaya memberi pertolongan kepada yang masih hidup.

c. Manusia Yatnya Yaitu korban yang diperuntukan kepada keturunan atau sesama supaya hidup damai dan tentram.

d. Resi Yatnya Yaitu korban suci yang diperuntukan kepada guru atas jasa ilmu yang diberikan danyangan.

e. Buta Yatnya Yaitu korban suci yang diperuntukan kepada semua makhluk yang kelihatan maupun tidak, untuk kemulyaan dunia ini unggahan.

 

 

 

Hal ini bertentangan dengan Firman Allah:

”Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.(QS. Al-Baqoroh[2]:170)
[Lihat juga QS. Al-Maidah[5]:104, Az-Zukhruf [43]:22)

Tujuan dari yang disebutkan di atas merupakan usaha untuk meletakkan diri pada keseimbangan dalam hubungan diri pribadi dengan segala ciptaan Tuhan, [serta] untuk membantu kesucian/penghapus dosa.

Hal ini bertentangan dengan Firman Allah :

”Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya” (QS. Az-Zumar [39]:2). Periksa juga surat 18: 110, 39: 65, 16: 36, 7: 59,65,73,85, 4: 116, 6: 88, 17: 39. [1]

Dalam pembahasan diatas sudah jelas bahwa kenduri adalah termasuk budaya agama Hindu dan dalam Islam tidak dianjurkan. Apabila kita seorang muslim yang cerdas, tentunya kita meninggalkan budaya tersebut dan tidak ikut melestarikannya. Kenapa sampai sekarang budaya tersebut masih kental di masyarakat? Karena banyak orang Islam yang tidak mencari tahu tentang budaya tersebut, dan kebanyakan hanya ikut-ikutan meneruskan warisan leluhur tanpa tahu dasar yang pasti.

Sebuah budaya yang sudah melekat di masyarakat memang sulit untuk dihilangkan, hal ini karena budaya tersebut sudah bercampur dengan nilai-nilai adat istiadat masyarakat yang sudah terjadi secara turun temurun. Namun, tidak dapat dipungkiri budaya tersebut kian lama akan terkikis bahkan sampai hilang, karena sekarang banyak cendekiawan muslim yang berusaha untuk meluruskan hal-hal tersebut. Banyak orang sekarang yang belajar tentang agama secara mendalam, hal ini bisa menjadi senjata untuk menghilangkan budaya-budaya Hindu tersebut yang tidak terdapat/ tidak dianjurkan dalam agama Islam.

PROFIL AKU

wahyu budi nugroho


Popular Posts

Tantangan Pendidikan

Teknologi modern telah memungkinkan terciptanya komunikasi bebas lintas benua, lintas ...

terapi untuk para ah

Fuad Baraja, siapa yang tidak kenal dengan orang satu ini. ...

Kehujanan???? ga lay

Musim hujan sudah tiba. . . yang menggantikan musim kemarau ...

Peringatan 1 Muharro

Dalam rangka memperingati 1 Muharrom 1434 H, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ...

"no day without writ

No day without writing, this is the sentence that we ...