MOTIVASI DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN

  1. A.    PENDAHULUAN

Motivasi adalah salah satu unsur penting yang harus dimiliki oleh seseorang selain kemauan dan kemampuan dalam mencapai tujuan. Saat ini, banyak program-program motivasi yang dapat kita jumpai dalam berbagai forum, bahkan juga ada dalam media cetak maupun elektronik. Dalam media cetak banyak beredar buku-buku tentang motivasi, sedangkan dalam media elektronik, beberapa stasiun televisi swasta menayangkan program motivasi.

Dalam pandangan kami, para generasi muda saat ini kurang memiliki motivasi, atau salah menempatkan motivasi (memiliki motivasi semu). Sebagai contoh, ketika kita belajar hanya untuk dapat nilai yang bagus, ketika rajin kuliah hanya untuk memenuhi presensi, atau ketika ikut organisasi hanya untuk mendapatkan suatu predikat. Padahal idealnya sebagai seorang muslim dan muslimah, motivasi kita hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Melihat fenomena tersebut, mengapa motivasi begitu berpengaruh dalam kehidupan kita.

Pada makalah ini, akan dibahas tentang motivasi secara umum. Diantanya akan membahas tentang pengertian motivasi, jenis, fungsi, dan tujuan motivasi, serta aspek-aspek yang dimotivasi.

B.     PEMBAHASAN

  1. Pengertian Motivasi

Motivasi sangat penting dalam meningkatkan kinerja seseorang, karena kinerja seseorang tergantung dari motivasi, kemampuan, dan lingkungannya. Motivasi seseorang ditentukan oleh intensitas motifnya. Dalam hal memotivasi bawahan, seorang manajer berhadapan dengan dua hal yang mempengaruhi orang dalam bekerja, yaitu kemampuan dan kemauan. Kemauan dapat diatasi dengan pemberian motivasi, sedangkan kemampuan dapat diatasi dengan mengadakan diklat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kinerja manusia yang tampak dipengaruhi oleh fungsi motivasi dan kemampuannya.

Motivasi adalah upaya membangkitkan keinginan seseorang atau kelompok sehingga ia atau mereka melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki untuk memcapai tujuan yang telah ditetapkan. Motivasi mempunyai beberapa unsur penggerak, yaitu:

  1. Situasi motivasi

Situasi motivasi menjelaskan tentang perlunya suasana hubungan, baik formal ataupun informal, antara pihak yang memotivasi dan pihak yang dimotivasi. Hubungan ini pada dasrnya adalah komunikasi. Komunikasi akan efektif apabila terjadi interaksi antara motivator dan pihak yang dimotivasi, adanya pesan, dan umpan balik yang bermakna. Situasi motivasi hendaknya kondusif agar pihak yang dimotivasi dapat menggunakan dorongan yang ada dalam dirinya untuk melakukan kegiatan guna mencapai tujuannya.

  1. Upaya motivasi

Upaya memotivasi mencakup kegiatan menarik, mendorong, membimbing, dan mengarahkan dorongan yang terdapat pada diri orang-orang yang dimotivasi supaya mereka melakukan tugas pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.

  1. Kegiatan yang bertujuan

Unsur ini mencakup kegiatan, perbuatan atau pekerjaan yang dilakukan oleh pihak yang dimotivasi agar terfokus pada pencapaian tujuannya. Agar kegiatan itu dapat mencapai tujuan, maka tujuan tersebut harus dipahami, diyakini, dan dimiliki dengann penuh tanggung jawab.

  1. Jenis, Fungsi, dan Tujuan Motivasi
    1. Jenis motivasi

Jenis motivasi dapat dipandang dari segi dasar pembentukan, sumber, dan sifatnya. Dari segi dasar pembentukannya, motivasi dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu pertama motivasi bawaan yang dibawa sejak lahir, sperti dorongan untuk makan minum bila merasa haus dan lapar, juga dorongan untuk beristirahat. Kedua adalah motivasi yang dipelajari, yaitu motivasi yang timbul setelah seseorang mempelajari  keadaan diri sendiri atau keadaan lingkungan.

Dari segi sumbernya, motivasi terdiri dari motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik timbul dari setiap individu, seperti kebutuhan, kemauan, minat, dan harapan yang terdapat pada diri seseorang. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang datang dari luar diri seseorang, timbul karena adanya stimulus (rangsangan) dari luar lingkungannya.

Dilihat dari sifatnya, motivasi mencakup motivasi yang memberi harapan, menyadarkan, dan upaya paksaan. Motivasi yang sifatnya memberi harapan yaitu motivasi yang mendorong atau merangsang harapan, kebutuhan, dan keinginan seseorang atau kelompok untuk melakukan sesuatu. Motivasi yang bersifat menyadarkan yaitu motivasi yang bersifat ajakan sehingga seseorang atau kelompok melakukan kegiatan yang harus dikerjakan. Dalam melaksanakan jenis motivasi ini, pelaksanaannya terdiri dari beberapa tahapan kegiatan, yaitu menarik perhatian, menggugah hati, membangkitkan keinginan, menyakinkan, dan menggerakkan kegiatan. Sedangkan motivasi yang bersifat paksaan yaitu upaya motivasi yang sifatnya memberi sanksi kepada sasaran yang dimotivas, seperti sanksi administratif, fisik, sosial, dan psikologis.

  1. Fungsi motivasi

Fungsi motivasi adalah sebagai pendorong, penentu arah kegiatan, dan penyeleksi kegiatan atau perbuatan pihak yang dimotivasi. Sebagai pendorong seseorang atau kelompok yang dimotivasi mengandung arti bahwa untuk melakukan suatu tugas atau kegiatan, seseorang atau kelompok sering harus dimotivasi karena tidak setiap orang mau melakukan kegiatan walapun ia tahu bahwa kegiatan tersebut bermanfaat bagi dirinya, organisasi, dan/atau lingkungannya. Sebagai arah penentu kegiatan, motivasi dilakukan untuk menjaga dan meluruskan kegiatan yang telah ditetapkan sehingga oarang yang dimotivasi tetap melaksanakan kegiatan tersebut sebagaimana seharusnya dilakukan. Sebagai penyeleksi perbuatan, motivasi dilakukan karena terlalu banyak aktivitas yang terkadang menyebabkan seseorang sulit menentukan aktivitas mana yang harus diprioritaskan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

  1. Tujuan motivasi

Tujuan motivasi mencakup tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan motivasi secara khusus adalah pertama, memberikan dorongan kepada seseorang atau kelompok untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan. Kedua, motivasi bertujuan untuk membangkitkan keinginan seseorang atau kelompok supaya berbuat sesuai dengan yang dikehendaki. Sedangkan tujuan khusus motivasi adalah menumbuhkan dorongan pada diri seseorang atau kelompok untuk melaksanakan tugas atau kegiatan dalam upaya mencapai tujuan organisasi; dan membangkitkan kemauan, keinginan, dan harapan pada diri pihak yang dimotivasi sehingga ia dapat melakukan kegiatan sebagaimana yang dikehendaki oleh motivator.

  1. Aspek-Aspek yang Dimotivasi

Motivasi mendorong aspek-aspek rohaniah dalam melakukan sesuatu guna mencapai tujuan. Aspek-aspek rohaniah tersebut adalah kebutuhan, keinginan, dorongan, dan kata hati. Dengan kata lain, yang dimotivasi itu adalah potensi diri dari pihak yang dimotivasi dan mencakup cita, rasa, dan karsanya.

Dalam buku Manajemen Program Pendidikan (D. Sudjana S., 2004: 153-156) Etheridge mengemukakan bahwa aspek-aspek psikis yang dimotivasi itu meliputi drive (dorongan atau desakan dari dalam diri manusia), stimulation (rangsangan), level of aspiration (tingkat harapan), goal-setting (tujuan yang ingin dicapai), crises (krisis yang dialami), dan needs (kebutuhan).

Dorongan atau desakan yang terdapat dalam diri manusia seperti rasa lapar dan haus merupakan potensi yang mempengaruhi dan dapat mengarahkan tingkah laku. Potensi itu dapat dimanfaatkan untuk memenuhi dorongan tersebut sebagai upaya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Salah satu upaya motivasi adalah dengan memberikan imbalan atau penghargaan terhadap kegiatan yang memenuhi dorongan tersebut.

Stimulus adalah rangsangan terhadap pancaindera seseorang. Pancaindera merupakan sumber untuk memulai dan melakukan aktivitas serta untuk meningkatkan perilaku pihak yang dimotivasi. Upaya motivasi yang dapat dilakukan antara lain adalah dengan menunjukkan dan menjelaskan kepada ealaksanan program tentang makna dan manfaat kegiatan yang perlu dilaksanakan. Upaya selanjutnya adalah membimbing pihak yang dimotivasi dalam melakukan kegiatan sehingga tidak menyimpang dari rencana yang telah ditetapkan.

Perilaku seseorang dalam mewujudkan harapannya akan menunjukkan tinggi rendahnya harapan orang itu. Makin tinggi keberhasilan yang dicapai, pelaksanaan program akan makin tinggi pula harapannya, serta cenderung akan makin meningkatkan upayanya untuk mencapai keberhasilan yang lebih baik. Diantara upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan harapan pelaksana program adalah dengan membantu yang bersangkutan sehingga berhasil dalam melaksanakan kegiatan yang harus dilaksanakan dan dengan meningkatkan kepercayaan dirinya bahwa ia mampu dan akan berhasil dalam melaksanakan kegiatan selanjutnya.

Penentuan tujuan yang dilaksanakan seseorang akan memperkuat perilaku orang itu. Orang yang telah menetapkan suatu tujuan yang hendak dicapai cenderung akan mengarahkan perilaku untuk mewujudkan tujuan. Tujuan yang sederhana dapat dicapai dengan upaya yang sederhana, sedangkan tujuan yang lebih kompleks akan menuntut upaya pencapaian yang lebih tinggi. Demikian pula ketepatan seseorang dalam menentukan tujuan, cenderung akan membantu orang itu dalam menentukan dan mengarahkan pelakunya untuk mencapai tujuan.

Masa krisis dapat menjadi pendorong atau pengarah perilaku. Bagi orang-orang yang berhasil menemukan kesempatan dan tujuan baru dalam kehidupan dan menemukan pula cara-cara memenuhinya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki maka kemajuan dalam kehidupan mereka akan tercapai.

Kebutuhan dapat mendorong, menguatkan, dan mengarahkan perilaku seseorang, baik untuk melakukan kegiatan dalam memenuhi kebutuhan maupun untuk mencapai suatu tujuan. Menurut Maslow (1954) tingkat kebutuhan dimulai dari kebutuhan yang paling rendah dan menuju kebutuhan yang paling tinggi. Maslow mengemukakan lima macam kebutuhan, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan untuk diakui dan dihargai, serta kebutuhan pengembangan diri.

Sementara itu, H. Veithzal Rivai dan Sylvana Murni dalam bukunya yang berjudul Education Management (2010) menempatkan teori hierarki kebutuhan Maslow pada hakikat motivasi bersama teori motivasi-Hygiene Herzberg. Dalam teorinya, Maslow meyakini bahwa ketidakpuasan kebutuhan orang merupakan sumber motivasi utama seorang individu tersebut. Dia menempatkan lima kebutuhan manusia yang berhubungan dengan teori hierarki dari yang paling dasar, yaitu kebutuhan dasar fisik untuk survival, keamanan, rasa memiliki, status ego, dan aktualisai diri.

Sementara Herzberg mengemukakan bahwa teorinya lebih mengacu pada situasi kerja, dan dia meyakini bahwa tingkat status ego Maslow dan aktualisasi diri merupakan sumber motivasi kerja secara langsung, tapi tidak ada hubungan langsung terhadap pekerjaan. Menurut Herzberg, pada diri setiap manusia selalu ada dorongan yang kuat untuk ingin maju, ingin lebih baik dari orang lain dan makin kuat imannya, dan akan menyadari untuk berbuat lebih baik dari hari kehari.

  1. Apa yang Bisa Memotivasi Seseorang

Hal-hal yang mempengaruhi prestasi kerja seseorang, orang tersebut perlu memenuhi dua syarat pokok dahulu, yaitu :

  1. Kemampuan untuk berprestasi

Kemampuan dalam suatu bidang hanya bisa dimiliki seseorang apabila dia memiliki bakat. Seseorang yang mempunyai bakat tapi tidak diberi kesempatan untuk berkembang atau dikembangkan maka bakat tersebut tidak akan menjadi kemampuan, begitu juga bila  seseorang  diberi kesempatan berkembang oleh perusahaan tetapi tidak sesuai bakat yang dimilkinya maka pemberian kesempatan tersebut tidaklah efektif.

Setiap orang memiliki bakat yang berbeda dalam hal intensitasnya, oleh karenanya program kerja yang efektif sebaiknya perlu mempertimbangkan factor bakat seseorang. Disamping bakat dan pengetahuan hal yang perlu diperhatikan yaitu minat dan kepribadian, yang berpengaruh pada terciptannya kepuasan kerja.

  1. Kemampuan untuk berprestasi

Motivasi seseorang dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :

a)      Pengaruh lingkungan fisik

b)      Pengaruh llingkungan sosial terhadap motivasi

Manusia sebagai makhluk sosial dalam bekerja tidak hanya mengejar penghasilan saja, tetapi juga mengharapkan dirinya diterima dilingkungannya tersebut. Ada empat factor yang mempengaruhi suatu motivasi, yaitu :

  • Hubungan dan pengelompokkan dengan orang lain secara informal
  • Yang bersifat formal yaitu seperti peraturan-peraturan yang berkaitan dengan semua orang yang bersangkutan
  • Siapa pemimpin dari orang yang bersangkutan tersebut
  • Organisasi

 

c)      Kebutuhan pribadi

Pada dasarnya setiap orang dikuasai oleh kebutuhan tertentu yang mendorongnya untuk bekerja yang berbeda-beda, yang dipengaruhi oleh latar belakang, adat istiadat, lingkungan sosial, dan strata sosial.

  1. Upaya Meningkatkan Motivasi

Setelah mengetahui faktor-faktor yang mempengauhi motivasi (kemauan) seseorang, yang perlu dilakukan selanjutnya adalah upaya untuk meningkatkan motivasi tersebut. Terdapat beberapa Prinsip-prinsip untuk meningkatkan sebuah motivasi , yaitu :

  1. Prinsip partisipasi
  2. Prinsip komunikasi
  3. Prinsip mengakui andil bawahan
  4. Prinsip pendelegasian wewenang
  5. Prinsip memberikan perhatian timbal balik
  6. Teknik Motivasi

Beberapa teknik memotivasi antara lain adalah berpikir positif, menciptakan perubahan yang kuat, membangun harga diri, memantapkan pelaksanaan, membangkitkan orang yang lemah menjadi kuat, dan membasmi sikap menunda-nunda. Selain itu, Verma (1996) memiliki teknik motivasi yang disebut dengan prinsip MOTIVATE.

M         = Manifest, yang artinya membangkitkan rasa percaya diri ketika pendelegasian tugas.

O         = Open, yang artinya membangkitkan percaya diri ketika mendelegasikan tugas.

T          = Tolerance, yang artinya toleransi tehadap kegagalan, mau dan boleh belajar dari kesalahan karena pengalaman adalah guru yang terbaik.

I           = Involve, yang artinya semua pihak terkait dalam pekerjaan (meningkatkan rasa diterima dan komitmen).

V         = Value, yang artinya nilai yang diharapkan dan diakui dalam kinerja yang baik (hadiah apa yang didapat dan bagaimana mendapatkannya).

A         = Align, yang artinya menyeimbangkan sasaran pekerjaan dengan sasaran individu (orang-orang bersemangat mencapai kepuasan yang mereka inginkan).

T          = Trust, yang artinya kejujuran setiap anggota tim.

E          = Empower, yang artinya berdayakan setiap anggota tim sewajarnya (khususnya dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaannya).

C.    KESIMPULAN

Motivasi adalah upaya membangkitkan keinginan seseorang atau kelompok sehingga ia atau mereka melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki untuk memcapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam mencapai tujuan, motivasi adalah salah satu unsur penting yang harus dimiliki oleh seseorang selain kemauan dan kemampuan.

Motivasi mempunyai unsur penggerak, yaitu situasi motivasi, upaya motivasi, dan kegiatan yang bertujuan. Selain itu, motivasi juga mempunya fungsi, jenis, dan tujuan. Selanjutnya, aspek-aspek yang dimotivasi adalah aspek-aspek rohaniah atau aspek-aspek psikis, yang meliputi drive (dorongan atau desakan dari dalam diri manusia), stimulation (rangsangan), level of aspiration (tingkat harapan), goal-setting (tujuan yang ingin dicapai), crises (krisis yang dialami), dan needs (kebutuhan).

Beberapa teknik memotivasi antara lain adalah berpikir positif, menciptakan perubahan yang kuat, membangun harga diri, memantapkan pelaksanaan, membangkitkan orang yang lemah menjadi kuat, dan membasmi sikap menunda-nunda.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

D. Sudjana S., 2004, Manajemen Program Pendidikan: untuk Pendidikan Nonformal dan Pengembangan Sumber Daya Alam, Bandung: Falah Production.

 

H. Viethzal Rivai dan Sylviana Murni, 2010, Education Management: Analisis Teori dan Praktik, Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

 

Husaini Usman, 2010, Manajemen, Praktik, dan Riset Pendidikan, Edisi 3, Jakarta: Bumi Aksara.

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE