Cah KUdus

Hanya Blog UMY situs lain

A.    Latar Belakang

Mempunyai anak berakhlaq mulia adalah dambaan dan kebanggan setiap orang tua. Setiap orang tua menginginkan anaknya rajin sholat, santun dalam pergaulan, santun dalam bertutur kata, santun dalam berpakaian, dan lainnya dimana sikap dan perilaku anak mencerminkan bahwa ia mempunyai religiusitas yang tinggi. Karena semakin tinggi tingkat religiusitas seseorang, semakin baik pula sikap dan perilakunya. Dan semakin semakin tinggi tingkat religiusitas seseorang, semakin tinggi pula kedamaian jiwa yang dirasakan oleh seseorang.

Dr. Zakiah Daradjat berpendapat bahwa dengan melaksanakan ajaran agama secara baik, maka kebutuhan akan rasa kasih sayang, rasa aman, rasa harga diri, rasa bebas, dan rasa ingin tahu akan terpenuhi (H. Jalaluddin, 2010: 60). Hal ini berarti bahwa keinginan dasar manusia akan terpenuhi bila ia melaksanakan ajaran agama dengan baik. Sementara itu, G.M. Straton mengatakan, bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama adalah adanya konflik dalam kejiwaan manusia (Ibid: 59).Dengan kata lain, konflik kejiwaan tersebut akan membawa individu ke arah kemajuan atau bahkan ke arah kemunduran. Seperti halnya konflik dalam ukuran moral dan ide-ide keagamaan dapat menimbulkan pandangan baru (Ibid: 59).

Dalam pandangan masyarakat umum, religiusitas perempuan lebih tinggi dibandingkan religiusitas laki-laki. Selain itu, perbedaan tempat tinggal juga mempengaruhi pandangan masyarakan umum. Banyak yang beranggapan, bahwa yang tinggal di asrama –seperti di Unires- lebih baik dibandingkan yang tinggal di kos-kosan. Begitu juga yang tinggal dengan orang tua dipandang mempunyai religiusitas yang lebih baik dibandingkan yang tinggal di kos-kosan. Hal ini dikarenakan mahasiswa yang tinggal di asrama maupun yang tinggal dengan orang tua masih mendapatkan pengawasan dari orang tua atau wali.

Namun berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti, tidak sedikit mahasiswi yang mempunyai tingkat religiusitas yang rendah. Banyak dari mahasiswi yang masih suka bergosip atau belum menunjukkan kemuslimahannya dalam berpakaian. Begitu pula mahasiswa yang tinggal bersama orang tua maupun yang tinggal di Unires belum tentu memiliki religiusitas yang tinggi dibandingkan yang tinggal di kos-kosan.

Melihat realita dan pandangan yang ada selama ini, maka peneliti ingin meneliti pengaruh tingkat religiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta berdasarkan jenis kelamin dan tempat tinggal. Pemilihan Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta oleh peneliti dikarenakan peneliti tahu bahwa tingkat keberagamaan mahasiswa Pendidikan Agama Islam cukup tinggi. Dengan hal tersebut peneliti ingin melihat bagaimanatingkat religiusitas mahasiawa maupun mahasiswi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang tinggal di Unires, di kos-kosan, dan yang tinggal dengan orang tua. Selain itu, peneliti juga ingin membuktikan variabel manakah yang lebih berpengaruh terhadap religiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkanlatarbelakangmasalah diatas, makarumusanmasalahpenelitianiniadalah :

  1. Apakah jenis kelamin mempengaruhi tingkat religiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta?
  2. Apakah tempat tinggal mempengaruhi tingkat religiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta?
  3. Adakah pengaruh jenis kelamin dan tempat tinggal terhadap tingkat religiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta?
  4. Manakah variabel yang dominan mempengaruhi tingkat religiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta?
  5. Apa saja faktor yang membuat variabel tersebut dominan mempengaruhi tingkat religiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agam Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta?

C.    Tujuaan Penelitian

  1. Untuk mengkaji apakah jenis kelamin mempengaruhi tingkat religiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
  2. Untuk mengetahui apakah tempat tinggal mempengaruhi tingkat religiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
  3. Untuk menemukan pengaruh jenis kelamin dan tempat tinggal terhadap tingkat religiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
  4. Untuk mengetahui variabel yang dominan mempengaruhi tingkat religiiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
  5. Untuk mengetahui faktor yang membuat variabel tersebut dominan mempengaruhi tingkat religiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agam Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

D.    Tinjauan Pustaka

  1. Untuk mengkaji apakah jenis kelamin mempengaruhi tingkat religiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
  2. Untuk mengetahui apakah tempat tinggal mempengaruhi tingkat religiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
  3. Untuk menemukan pengaruh jenis kelamin dan tempat tinggal terhadap tingkat religiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
  4. Untuk mengetahui variabel yang dominan mempengaruhi tingkat religiiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
  5. Untuk mengetahui faktor yang membuat variabel tersebut dominan mempengaruhi tingkat religiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agam Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Penelitian mengenai religiusitas sudah banyak dilakukan, diantaranya adalah penelitian yang disusun oleh Nailul Izzah, mahasiswi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogayakarta. Judul penelitiannya ialah Pengaruh Persepsi Siswa tentang Kepribadian Kreatif Guru Pendidikan Agama Islam terhadap Kesadaran Beragama (Studi Kasus pada Siswa SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta). Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan persepsi kepribadian kreatif guru Pendidikan Agama Islam terhadap kesadaran beragama siswa SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Hal ini disebabkan karena penanaman keislaman pada siswa sudah didapatkan sejak dini dari keluarga; pemahaman tentang keislaman yang umum sudah didapatkan dijenjang sekolah sebelumnya; dan do’a sehari-hari sudah dihafalkan sebelum masuk SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta (2010: 74).

Selain itu, Yuni Asih,yang juga salah satu mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Yogyakarta, menyusun penelitian yang berjudul Korelasi antara Prestasi Belajar Studi Akidah Akhlak dengan Keberagamaan Siswa Kelas X di SMK Muhammadiyah 1 Playen Gunung Kidul. Dari penelitian tersebut didapat kesimpulan bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara prestasi belajar studi Akidah Akhlak dengan keberagamaan siswa kelas X SMK Muhammadiyah 1 Playen Gunung Kidul, dengan koefisien korelasinya sebesar 0,453. Sehingga, semakin tinggi nilai Akidah Akhlak, maka semakin tinggi pula keberagamaan siswa (2010: 68).

Demikian juga penelitian yang berjudul Usaha Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pengembangan Potensi Keagamaan dan Keberagamaan. Penelitian tersebut ditulis oleh Siti Warifah yang juga salah satu mahasiswi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dari penelitian tersebut diperoleh kesimpulan bahwa proses pelaksanaan program pengembangan potensi keagamaan dan keberagamaan siswa SD Negeri Jageran difokuskan pada dimensi ritual dan konsekuensial. Yaitu difokuskan pada aktifitas ibadah dan penerapan nilai-nilai agama di sekolah, seperti shalat berjama’ah, shalat Jum’at, zakat, puasa, baca tulis Al-Qur’an, berkurban, dan lain-lain. Hal tersebut merupakan kegiatan rutin dan insidental di sekolah dengan beberapa peningkatan  kualitas maupun kuantitas. Pelaksanaan program tersebut dilakukan dengan cara semua kegiatan yang berkaitan dengan fungsi keagamaan di SD Negeri Jageran ditujukan bagi seluruh siswa sesuai jenjang pendidikannya; semua kegiatan mencakup unsur saling mengisi dan saling mempengaruhi, yaitu tujuan pengembangan, SDM, sumber dana, hukum, pengawasan alat dan media; serta semua kegiatan berjalan dengan baik dan lancar berkat dukungan dan kerjasama dari semua pihak, baik siswa, guru, karyawan, staf, ustadz, dan masyarakat sekitar (2009: 65-66).

Ketiga penelitian di atas mengkaji tentang religiusitas siswa dari aspek metode, pencapaian akademik terhadap pengalaman beragama, dan usaha guru dalam mengembangkan potensi keberagamaan siswa. Sementara penelitian ini mengkaji tentang religiusitas dari aspek ideologi, ritual, dan pengalaman yang dipengaruhi oleh jenis kelamin dan tempat tinggal, serta faktor apa saja yang mempengaruhi religiusitas mahasiswa.

E.     Kerangka Teoritik
1.      Religiusitas

a.      Definisi

Dalam tulisan Tanto (http://jalurilmu.blogspot.com/2011/10/religiusitas.html) ada beberapa istilah untuk menyebutkan agama, antara lain religi, religion (Inggris), religie (Belanda), religio/relegare (Latin), dan dien (Arab). Kata religion (Inggris) dan religie (Belanda) adalah berasal dari bahasa induk dari kedua bahasa tersebut, yaitu bahasa Latin “religio” dari akar kata “relegare” yang berarti mengikat (Kahmad, 2002). Menurut Cicero (Ismail, 1997), relegare berarti melakukan sesuatu perbuatan dengan penuh penderitaan, yakni jenis laku peribadatan yang dikerjakan berulang-ulang dan tetap. Dalam bahasa Arab, agama dikenaldengan kataal-dindanal-milah. Kata al-din sendiri mengandung berbagai arti. Ia bisa berarti al-mulk (kerajaan), al-khidmat (pelayanan), al-izz (kejayaan), al-dzull (kehinaan), al-ikrah (pemaksaan), al-ihsan (kebajikan), al-adat (kebiasaan), al-ibadat (pengabdian), al-qahr wa al-sulthan (kekuasaan dan pemerintahan), al-tadzallul wa al-khudu (tunduk dan patuh), al-tha’at (taat), al-islam al-tauhid (penyerahan dan mengesakan Tuhan) (Kahmad, 2002).

Dari istilah agama inilah kemudian muncul apa yang dinamakan religiusitas. Meski berakar kata sama, namun dalam penggunaannya istilah religiusitas mempunyai makna yang berbeda dengan religi atau agama. Kalau agama menunjuk pada aspek formal yang berkaitan dengan aturan-aturan dan kewajiban-kewajiban; religiusitas menunjuk pada aspek religi yang telah dihayati oleh individu di dalam hati (Mangunwijaya, 1982). Religiusitas seringkali diidentikkan dengan keberagamaan. Religiusitas diartikan sebagai seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, seberapa pelaksanaan ibadah dan kaidah dan seberapa dalam penghayatan atas agama yang dianutnya. Bagi seorang Muslim, religiusitas dapat diketahui dari seberapa jauh pengetahuan, keyakinan, pelaksanaan dan penghayatan atas agama Islam (Fuad Nashori dan Rachmy Diana Mucharam, 2002).

Hawari (1996) menyebutkan bahwa religiusitas merupakan penghayatan keagamaan dan kedalaman kepercayaan yang diekspresikan dengan melakukan ibadah sehari-hari, berdoa, dan membaca kitab suci.

Ancok dan Suroso (2001) mendefinisikan religiusitas sebagai keberagamaan yang berarti meliputi berbagai macam sisi atau dimensi yang bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Sumberjiwakeagamaanituadalah rasa ketergantungan yang mutlak (sense of depend). Adanyaketakutan-ketakutanakanancamandarilingkunganalamsekitarsertakeyakinanmanusiaitutentangsegalaketerbatasandankelemahannya. Rasa ketergantungan yang mutlakinimembuatmanusiamencarikekuatansaktidarisekitarnya yang dapatdijadikansebagaikekuatanpelindungdalamkehidupannyadengansuatukekuasaan yang berada di luardirinyayaituTuhan.

Berdasarkan uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa religiusitas adalah kedalaman penghayatan keagamaan seseorang dan keyakinannya terhadap adanya tuhan yang diwujudkan dengan mematuhi perintah dan menjauhi larangan dengan kaiklasan hati dan dengan seluruh jiwa dan raga.

b.      Faktor yang Mempengaruhi

Dalam tulisan Tanto (Ibid) juga menyebutkan bahwa religiusitas atau keagamaan seseorang ditentukan dari banyak hal, di antaranya adalah pendidikan keluarga, pengalaman, dan latihan-latihan yang dilakukan pada waktu kita kecil atau pada masa kanak-kanak. Seorang remaja yang pada masa kecilnya mendapat pengalaman-pengalaman agama dari kedua orang tuanya, lingkungan sosial dan teman-teman yang taat menjalani perintah agama serta mendapat pendidikan agama baik di rumah maupun di sekolah, sangat berbeda dengan anak yang tidak pernah mendapatkan pendidikan agama di masa kecilnya, maka pada dewasanya ia tidak akan merasakan betapa pentingnya agama dalam hidupnya. Orang yang mendapatkan pendidikan agama baik di rumah mapun di sekolah dan masyarakat, maka orang tersebut mempunyai kecenderungan hidup dalam aturan-aturan agama, terbiasa menjalankan ibadah, dan takut melanggar larangan-larangan agama (Syahridlo, 2004).

Thoules (Azra, 2000) menyebutkanbeberapafaktor yang mempengaruhireligiusitas, yaitu:

1)      Pengaruh pendidikan atau pengajaran dan berbagai tekanan sosial (faktor sosial) yang mencakup semua pengaruh sosial dalam perkembangan sikap keagamaan, termasuk pendidikan orang tua, tradisi-tradisi sosial untuk menyesuaikan dengan berbagai pendapatan sikap yang disepakati oleh lingkungan.

2)      Berbagai pengalaman yang dialami oleh individu dalam membentuk sikap keagamaan terutama pengalaman mengenai:

a)      Keindahan, keselarasandankebaikandidunia lain (faktoralamiah)

b)      Adanyakonflik moral (faktor moral)

c)      Pengalaman emosional keagamaan (faktor afektif)

3)      Faktor-faktor yang seluruhnya atau sebagian yang timbul dari kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi, terutama kebutuhan terhadap keamanan, cinta kasih, harga diri, dan ancaman kematian.

2.      Jenis Kelamin

Dalam Wikipedia, jenis kelamin (bahasa Inggrissex) adalah kelas atau kelompok yang terbentuk dalam suatu spesies sebagai sarana atau sebagai akibat digunakannya proses reproduksi seksual untuk mempertahankan keberlangsungan spesies itu.Jenis kelamin merupakan suatu akibat dari dimorfisme seksual, yang pada manusia dikenal menjadi laki-laki dan perempuan. Jenis kelamin yang dimaksud pada penelitian ini adalah jenis kelamin menurut fitrah Islam, yaitu laki-laki dan perempuan.

3.      Tempat Tinggal

Menurut Wikipedia, sebuah tempat tinggal biasanya berwujud bangunanrumah, tempat berteduh, atau struktur lainnya yang digunakan sebagai tempat manusia tinggal. Istilah ini dapat digunakan untuk rupa-rupa tempat tinggal, mulai dari tenda-tenda nomaden hingga apartemen-apartemen bertingkat. Dalam konteks tertentu tempat tinggal memiliki arti yang sama dengan rumah, kediaman, akomodasi, perumahan, dan arti-arti yang lain.

Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan tempat tinggal adalah tempat yang ditempati seseorang dalam waktu yang tidak ditentukan maupun yang berjangka. Tempat tersebut yaitu rumah, asrama, kontrakan, dan kos-kosan.

F.     Kegunaan Penelitian

  1. KegunaanTeoritis

Sebagai sumbangan keilmuan di bidang Psikologi khususnya Psikologi Agamadan dapat dijadikan salah satu referensi bagi peneliti lain untuk membantu menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan religiusitas mahasiswa.

 

  1. KegunaanPraktis

Penelitian ini dimaksudkan untuk membantu menyelesaikan persoalan mahasiswaUniversitasMuhammadiyah Yogyakarta, khususnyamahasiswaPendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam dalam hal penanaman nilai-nilai agamaIslamdalamkehidupan.

G.    Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan menjadi jenis kelamin dan tempat tinggal berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat religiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

H.    MetodePenelitian

  1. JenisPenelitian

Dalam hal ini peneliti menggunakan jenis penelitian campuran, yaitu kuantitatifdankualitatif. Metode penelitian yang dipakai peneliti adalah penelitian survei sebagai metode utama, sedangkan data kualitatif peneliti gunakan sebagai penguat dan penunjang hasil penelitian dengan metode kuantitatif. Menurut Nana Syaodih Sukmadinata dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian Pendidikan menyebutkan definisi penelitian survei dan kualitatif sebagai berikut:

Penelitian surveiadalah penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan informasi berbentuk opini dari sejumlah besar orang terhadap topik atau isu-isu tertentu (2010: 54).

Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisa fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok (2010: 60).

 

  1. LokasiPenelitian

Lokasi penelitian yang dipilih oleh peneliti adalah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, khususnya pada Prodi Pendidikan Agama Islam. Alasan pemilihan lokasi adalah karena mahasiswa Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarata ialah calon pendidik di bidang agama Islam. Maka, memiliki tingkat religiusitas yang tinggi menjadi hal yang sangatpenting.

  1. VariabelPenelitian

Dalam penelitian ini, terdapat 3 (tiga) variabel, yaitu jenis kelamin sebagai X1,tempat tinggal sebagai X2, dan tingkat religiusitas sebagai Y. Jenis kelamin dan tempat tinggal merupakan independen variabel. Sementara tingkat religiusitas menjadi dependen variabel.

  1. Definisi Operasional

Jenis kelamin yang dimaksud adalah mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta laki-laki dan perempuan angkatan 2010. Tempat tinggal yang dimaksud peneliti adalah tempat tinggal seperti asrama (Unires), kos-kosan, kontrakan, dan tinggal bersama orang tua. Sementara yang dimaksud dengan tingkat religiusitas adalah merujuk pada aspek religi yang telah dihayati oleh individu dalam hati. Tingkat religiusitas tersebut dapat dilihat dari beberapa dimensi (3 dari 5 dimensi religiusitas berdasarkan Glock dan Strak), diantaranya adalah:

  1. Dimensi ideologi, yaitu tingkat sejauhmana seseorang menerima hal-hal yang dogmatik dalam agamanya, seperti kepercayaan tentang sifat-sifat Allah, malaikat, jin, surga, neraka, dan sebagainya.
  2. Dimensi ritual, yaitu tingkat sejauhmana seseorang melaksanakan kewajiban ritual agamanya, seperti shalat, puasa, zakat, dan sebagainya.
  3. Dimensi pengalaman, yaitu tingkat sejauhmana perilaku seseorang dimotivasi oleh ajaran agamanya di dalam kehidupan sosial, seperti menolong orang, infaq, shodaqah, dan sebagainya.
  1. PopulasiSampel

Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta angkatan 2010 yang masih aktif kuliah. Sementara teknik pengambilan sampel tidak secara acak, karena berdasarkan pertimbangan peneliti. Rincian sampel dapat dilihat sebagai berikut:

 

Jenis Kelamin

Tempat Tinggal

Jumlah

Kos

Unires

Kontrakan

Orang Tua

Laki-Laki

10

10

10

10

40

Perempuan

10

10

10

10

40

 

  1. MetodePengumpulan Data

a.      Angket

Angket ini disusun untuk mengukur ada-tidaknyapengaruh jenis kelamin dan tempat tinggal terhadap tingkat religiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data kuantitatif.

b.      Wawancara

Wawancara hanya dilakukan kepada pihak mahasiswa. Teknik yang digunakan dalam wawancara adalah terstruktur, yaitu peneliti menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk mencari data yang bersifat informatif dari responden. Wawancara yang dilakukan peneliti merupakan metode pelengkap untuk mengumpulkan data kualitatif. Metode ini juga dimaksudkan untuk menggali variabel dominan yang mempengaruhi religiusitas mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

c.       Dokumentasi

Metode ini dilakukan untuk memperoleh data resmi tentang ruang lingkup mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Agam Islam Unversitas Muhammadiyah Yogyakarta, seperti siapa saja mahasiswa yang tinggal di kos-kosan, Unires, dan yang tinggal dengan orang tua.

 

 

  1. MetodeAnalisis Data

a.      Teknik Analisis Product Moment

Pengolahan data angket dilakukan dengan analisis product momentmenggunakan program SPSS 16.0, dengan rumus (angka kasar) sebagai berikut:

 

Keterangan:

rxy             : koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y

N               : jumlah sampel

: jumlah skor variabel X

: jumlah skor variabel Y

2                : jumlah skor variabel X kuadrat

2            : jumlah skor variabel Y kuadrat

Y          : jumlah perkalian skor variabel X dan variabel Y


 

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Jenis_kelamin

http://id.wikipedia.org/wiki/Tempat_tinggal

http://jalurilmu.blogspot.com/2011/10/religiusitas.html

Jalaluddin, 2010, Psikologi Agama, Jakarta: Rajawali Pers.

Nailul Izzah, 2010, Pengaruh Persepsi Siswa tentang Kepribadian Kreatif Guru Pendidikan Agama Islam terhadap Kesadaran Beragama (Studi Kasus pada Siswa SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta), skripsi tidak di terbitkan, Yogyakarta: UMY.

Nana SyaodihSukmadinata, 2011, MetodePenelitianPendidikan, Bandung: PT. RemajaRosdakarya.

SitiWarifah, 2009, Usaha Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pengembangan Potensi Keagamaan dan Keberagamaan, skripsitidak di terbitkan, Yogyakarta: UMY.

Yuni Asih, 2010, Korelasi antara Prestasi Belajar Studi Akidah Akhlak dengan Keberagamaan Siswa Kelas X di SMK Muhammadiyah 1 Playen Gunung Kidul, skripsi tidak di terbitkan, Yogyakarta: UMY.

Categories: Makalah / Artikel

PROFIL AKU

wahyu budi nugroho


Popular Posts

Manfaat Gerakan Shal

Shalat adalah ibadah wajib yang tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi ...

Conversation

A NICE MEETING   Today is very hot. After Arabic class, I ...

Pembagian Ilmu Hadit

A.   PENDAHULUAN Bagi umat Islam, Hadis merupakan sumber pokok ajaran agama ...

Pesan Rahasia Di Bal

Terkejut saya saat berkunjung keblog MythDunia. Pada salah satu artikelnya ...

TEKNIK PENGUJIAN VAL

A.    PENDAHULUAN Evaluasi dalam pendidikan mempunyai fugsi yang sangat penting. Dikarenakan ...