Cah KUdus

Hanya Blog UMY situs lain

Hal pertama yang perlu diluruskan adalah pandangan umum yang berkembang di masyarakat luas tentang hak pembagian waris antara laki-laki dan perempuan yang dirasa kurang adil bagi pihak perempuan. Mereka (masyarakat awam) beranggapan bahwa Islam lebih berpihak pada hak laki-laki. Padahal, di dalam al-Qur’an –khususnya Surah an-Nisa’/4:11-12)- telah dijelaskan secara rinci hak waris antara laki-laki dan perempuan.

Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka Para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun. (an-Nisa’/4:11-12).

 

Di dalam Surah an-Nisa pada ayat tersebut terlihat bahwa tidak selamanya laki-laki mendapat bagian lebih banyak dibanding perempuan. Ada kalanya bagian laki-laki sama dengan bagian perempuan. Hal tersebut dipengaruhi oleh ‘status’ yang disandangnya. Apakah ia bertindak sebagai anak (perempuan maupun laki-laki)? Apakah ia bertindak sebagai pasangan (suami maupun istri)? Apakah sebagai saudara si mayit? Ataukah ia bertindak sebagai kakek dan nenek?

Di bawah ini adalah tabel pembagian waris –berdasarkan Surah a-Nisa’ ayat 11-12- antara laki-laki dan perempuan yang berada dalam bagian yang sama maupun dalam bagian yang berbeda (yaitu laki-laki mendapat bagian 2 kali lipat dibanding perempuan):

HAK YANG SAMA ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Bagian

Status

Keterangan

Bersekutu dalam ⅓bagian Sebagai saudara seibu dengan si mayit Jika si mayit mempunyai lebih dari seorang saudara seibu, maka mereka bersekutu dalam ⅓ bagian
1/6 bagian Sebagai orangtua dari si mayat Kedua orangtua si mayat mendapat 1/6 bagian jika si mayat memiliki anak
Sebagai saudara tunggal seibu dari si mayit Saudara tunggal seibu dari si mayit mendapat 1/6 jika si mayit tidak memiliki ayah dan anak .

HAK YANG BERBEDA ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN (P:L = 1:2)

Bagian

Status

Keterangan

Perempuan ½ harta warisan Anak tunggal Anak perempuan tunggal akan memdapat separoh dari harta peninggalan orangtuanya.
Laki-laki 1 harta warisan Anak laki-laki tunggal akan memdapat seluruh dari harta peninggalan orangtuanya.
Perempuan 1 Sebagai anak dari si mayit Anak laki-laki mendapat 2 bagian dan anak perempuan mendapat 1 bagian jika orangtua mereka meninggal (anak seayah-seibu)
Laki-laki 2
Perempuan ⅛ Sebagai pasangani si mayit, dan punya anak Istri akan mendapat warisan ⅛ bagian jika suami memiliki anak
Laki-laki ¼ Suami akam mendapat ¼ jika istri memiliki anak
Perempuan ¼ Sebagai pasangan si mayat, dan tidak punya anak Istri akan mendapat warisan ¼ bagian jika suami tidak memiliki anak
Laki-laki ½ Suami akan mendapat warisan ½ bagian jika istri tidak memiliki anak

Dari tabel di atas jelas terlihat bahwa laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan ketika dalam keadaan dua ‘status’, yaitu sebagai anak dari si mayit dan pasangan dari si mayait. Hikmah dari perbedaan perolehan harta warisan dalam kondisi tersebut adalah laki-laki menikah dengan seorang wanita, dan dia berkewajiban untuk menghidupinya dan menghidupi anak-anaknya dalam segala keadaan. Baik ketika wanita itu bersamanya atau ketika ia telah diceraikan darinya. Sedangkan wanita, ia cukup mengurusi dirinya sendiri, atau malahan juga diurusi oleh lelaki, baik sebelum ataupun sesudah menikah (Imad Zaki Al-Barudi, 2007: hlm.288).

Di halaman yang sama, Imad Zaki Al-Barudi menjelaskan bahwa perbedaan bagian waris bukan masalah pilih kasih kepada lelaki dengan mengalahkan perempuan. Tetapi masalahnya adalah tentang keseimbangan dan keadilan antara beban-beban yang ditanggung laki-laki dan beban-beban yang ditanggung perempuan dalam sebuah kewajiban keluarga dan dalam sistem sosial Islam.

Thabatha’i memberikan analisa lain. Menurutnya, di samping laki-laki berkewajiban menafkahi istrinya, ia juga mempunyai keistimewaan dalam pengendalian emosi yang lebih tinggi dari wanita. Sementara dalam kitab tafsit “al-Muntakhab” yang disusun oleh sekelompok terkemuka ulama dan pakar Mesir, sistem pembagian warisan dalam al-Qur’an dapat dirangkum sebagai berikut (M. Quraish Shihab, 2000: hlm.352-353):

  1. Hukum waris ditetapkan oleh syari’at, bukan pemilik harta.
  2. Harta waris yang ditetapkan oleh Allah pembagiannya itu diberikan kepada kerabat yang dekat, tanpa membedakan antara yang kecil dan yang besar.
  3. Dalam pembagian diperhatikan juga sisi kebutuhan.
  4. Ketentuan pembagian warisan ini adalah distribusi, bukan monopoli.
  5. Wanita tidak dihalangi menerima warisan.

Dari uraian di atas, dapat kami simpulkan bahwa ketentuan al-Qur’an tentang pembagian waris antara laki-laki dan perempuan tidak selamanya berbeda. Persamaan dan perbedaan tersebutdipengaruhi oleh ‘status’ yang disandangnya. Ketika terjadi perbedaan bagian yang diterima antara laki-laki dan perempuan,hal itu dikarenakan kewajiban dan kebutuhan mereka memang berbeda, tidak dapat disamakan antara satu dengan yang lain. Perbedaan itulah yang menjadikan keadilan bagi laki-laki dan perempuan. Karena adil itu bukan menyamakan porsi, sementara kewajiban dan kebutuhannya berbeda.

Categories: Makalah / Artikel

PROFIL AKU

wahyu budi nugroho


Popular Posts

Manfaat Gerakan Shal

Shalat adalah ibadah wajib yang tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi ...

Conversation

A NICE MEETING   Today is very hot. After Arabic class, I ...

Pembagian Ilmu Hadit

A.   PENDAHULUAN Bagi umat Islam, Hadis merupakan sumber pokok ajaran agama ...

Pesan Rahasia Di Bal

Terkejut saya saat berkunjung keblog MythDunia. Pada salah satu artikelnya ...

TEKNIK PENGUJIAN VAL

A.    PENDAHULUAN Evaluasi dalam pendidikan mempunyai fugsi yang sangat penting. Dikarenakan ...