Cah KUdus

Hanya Blog UMY situs lain

Resume dari tulisan Dr. H. Muh. Anies, M.A.

Iman sebagai sentral ajaran Islam menempati posisi sangat sentral dan strategi dalam membangun kehidupan umat manusia. Iman yang teosentris harus teraplikasi dalam bentuk amal shalih yang humanis antrophosentris. Iman bukan hanya dalam hati, tetapi teraktualisasi dalam bentuk verbal (qaulun bi al-lisan) dan amal (amalun bi al-arkan). Dalam Al-Qur’an dan al-sunnah telah disebutkan indikator iman yang teraktual dalam bentuk aktual, seperti menghargai orang lain, mencintai orang lain, tidak melecehkan orang lain, memuliakan tamu, menjaga tetangga, dan sebagainya. Sedanngkan indikator iman dalam bentuk verbal yaitu selalu berkata dengan perkataan baik. Semantara itu, Rasulullah saw mengungkapkan bahwa iman itu banyak cabangnya, mulai dari dataran yang bersifat batiniyah, dataran verbal, sampai pada dataran aplikasi dalam bentuk amal.

Manusia dalam memahami suatu fenomena tidak hanya dengan rasio, melainkan juga dengan hati, karena manusia adalah makhluk berpikir dan merasa. Kemampuan manusia menggunakan rasio dan perasaan secara bersamaan merupakan manusia yang cerdas. Karena, orang cerdas adalah orang yang memiliki kecakapan bertindak ke arah kebaikan, mampu menggunakan rasio dengan baik, mampu menggunakan ketajaman qalbu (emosi, perasaan), dan mampu membangun relasi dengan lingkungan. Orang yang mampu berpikir rasional termasuk orang yang cerdas intelektualnya, sementara orang yang mampu menggunakan ketajaman qalbu termasuk orang yang cerdas emosi, sosial, dan spiritual.

Kecerdasan intelektual telah membawa kemajuan umat manusia dalam berbagai bidang kehidupan umat manusia, seperti kemajuan ilmu, teknologi, transportasi, dan informasi. Namun, kemajuan ilmu dan teknologi yang tidak dilandasi dengan nilai transendental ilahiyah tidak dapat menyelesaikan masala-masalah besar yang terjadi di belahan dunia. Krisis dalam berbagai bidang –politik, ekonomi, dan sosial- telah melanda dunia dan tidak pernah dapat terselesaikan. Peperangan terus terjadi di belahan dunia yang semuanya itu menyengsarakan umat. Masalah-masalah tersebut muncul karena penggunaan kemajuan teknologi yang terlepas dari nilai ilahiyah. Manusia yang tidak mau menggunakan telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, rasio dan hati untuk memahami (tanda-tanda kekuasaan Allah) maka mereka akan hilang sifat kemanusiaannya.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa iman memiliki banyak indikator. Sebagai contoh indikator iman yaitu kasih sayang dan sabar.

1.      Iman itu menyayangi atau mencintai orang lain

Menyayangi dan mencintai orang lain sebagai indikator iman telah dinyatakan oleh Rasulullah dalam H.R. Bukhari Muslim, yaitu tidak sempurna iman seseorang sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu untuk dirinya sendiri. Al-qur’an juga menjelaskan bahwa Nabi diutus ke dunia dalam rangka memberi rahmah (kasih sayang) pada uma manusia. Kasih sayang sangat bermakna bagi kehidupan manusia karena kasih sayang merupakan kebutuhan dasar manusia. Hubungan yanng didasari kasih sayang adalah sebuah keniscayaan guna membangun harmoni hubungan manusia.

Salah satu bentuk dari kasih sayang yaitu positive thinking (pikiran yang positif). Pikiran yang positif akan menghasilkan tindakan yang positif dan tindakan yang positif akan berpengaruh positif terhadap kehidupan. Pikiran dan perasaan positif akan memberi kontribusi positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Berpikir positif akan membebaskan manusia dari kungkungan pikiran negatif dan penderitaan, sehingga hal tersebut akan membawa kebahagiaan.

Sementara itu, di antara manfaat dari berkasih sayang adalah mencerdaskan dan membahagiakan. Dalam kaitannya dengan pendidikan anak, kasih sayang merupakan kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi agar anak dapat tumbuh kembang secara wajar dan baik. Selain itu, kasih sayang yang membawa kebahagiaan akan membantu mempermudah daya serap pada apa yang anak pelajari. Maka dari itu, sudah seharusnya dunia pendidikan menggunakan strategi penbelajaran berbasis kasih sayang.

Dalam Islam, konsep kasing sayang adalah memberi, bukan meminta. Islam mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberi kontribusi manfaat kepada orang lain, bukan mengambil manfaat dari orang lain atau memanfaatkan orang lain. Salah satu contoh yang paling sederhana dari memberi yang bermanfaat adalah memberi senyum ikhlas. Senyum yang diberikan secara ikhlas akan menyenangkan diri sendiri dan juga orang lain. Dari senyum itu pulalah akan menciptakan hubungan yang lekat dengan orang lain.

Secara lahiriyah, senyum akan membuat pelakunya menjadi lebih cantik dann lebih elegan. Saat tersenyum, ada dua otot yang berkontraksi, yaitu okuli orbikularis dan zigomatikus mayor. Selain itu, senyum dan tertawa akan menguatkan sistem pertahanan tubuh, menurunkan tekanan darah, dan juga memperlanbat denyut nadi.

Dari uraian di atas, dapat kita rekam beberapa hal sebagai berikut:

  1. Kasih sayang adalah kebutuhan dasar manusia, di mana hal itu harus dipenuhi agar manusia dapat berkembang dengan wajar dan baik.
  2. Kasih sayang itu mencerdaskan emosi, yang ditunjukkan dengan sikap empati dan komitmen. Kecerdasan emosi akan memberi kontribusi yang signifikan terhadap keberhasilan hidup seseorang.
  3. Kasih sayang itu mengembangkan kacerdasan sosial, yang hal tersebut dikembangakan oleh paradigma memberi manfaat kepada orang lain.
  4. Kasih sayang itu membahagiakan dan membuat jiwa tenang. Kasih sayang akan menciptakan hubungan yang harmonis, sehingga hal tersebut akan mendatangkan kenyamanan, ketenangan, dan kebahagiaan.
  5. Kasih sayang itu positive thinking (berpikiran posotif) kepada orang yang disayangi. Berpikiran positif akan menghasilkan hal yang bernilai positif dan menjadikan hubungan sosial menjadi nyaman dan menyenangkan.
  6. Kasih sayang itu menyehatkan. Dengan berkasih sayang akan membuat hubungan menjadi harmonis dan menyenangkan, sehingga meningkatkan hormon daya tahan tubuh.
  7. Kasih sayang itu memperkokoh hubungan kerja sama dan melapangkan rizki. Makin banyak seseorang dapat menjalin shilaturrahim, maka makin banyak hhubungan kerja sama yang dapat dibangun. Hal tersebut akan menciptakan jaringan kerja yang luas dan kokoh sehingga melapangkan rizki.
  8. Kasih sayang itu disiplin, karena orang akan melakukan hal dengan disipli jika di cinta terhadap hal tersebut.

2.      Iman itu sabar

Allah telah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 200 yang artinya wahai orang yang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu dan bersiagalah dan bertaqwalah kamu kepada Allah, mudah-mudahan kamu beruntung. Dalam ayat tersebut jelas bahwa salah satu tanda orang beriman adalah sabar dan selalu menguatkan kesabaran. Sabar adalah tahan uji, ulet, tahan banting, dalam menghadapi cobaan atau rintangan, dan selalu optimis. Ulama mengklasifikasikan sabar sebagai berikut:

  1. Sabar terhadap nikmat dan rahmat yang telah diberikan Allah. Sabar dalam hal ini adalah apakah manusia akan menggunakan nikmat dan rahmat yang diberikan ke jalan yang benar yang akan memberi kontribusi yang bermanfaat. Sabar terhadap nikmat di dalamnya terdapat rasa syukur terhadap apa yang Allah berikan. Aktualisasi dari sabar tersebut adalah menggunakan rahmat dan nikmat Allah untuk berbuat baik –baik kepada sesama muslim maupun non-muslim- guna mencari ridha Allah.
  2. Sabar terhadap kesenangan berbuat maksiat, yang berarti orang yang sabar menghadapi perbuatan maksiat sehingga tidak melakukan maksiat. Yang termasuk dalam perbuatan maksiat adalah khamr dan judi. Sejatinya, Allah melarang manusia berbuat maksiat karena maksiat banyak mendatangkan keburukan, baik bagi diri sendiri mapun bagi orang lain. Khamr menyebabkan orang mengalami gangguan fungsi berpikir, perasaan, dan perilaku. Sedangkan judi, pada dasarnya, akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Ketika penjudi menang, maka penjudi merugikan orang lain dan jika kalah, dia akan merugikan diri sendiri. Dengan kata lain, orang yang berbuat maksiat merupakan orang yang tidak mempunyai kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan sosial. Sabar terhadap maksiat memiliki implikasi mengambangkan kecerdasan emosi dan mengambangkan kecerdasan sosial.
  3. Sabar dari beratnya menunaikan ibadah, merupakan ujian ketaatan hamba kepada Allah swt karena beribadah itu lebih berat dari pada tidak beribadah. Hanya orang yang sabarlah yang dapat mengerjakan ibadah dengan tertib dan tekun. Orang yang bersabar dalam menunaikan ibadah adalah orang yang memiliki komitmen untuk berpegang teguh pada agama. Ibadah yang disyariatkan Allah dan Rasulnya adalah untuk kebaikan umat manusia, bukan untuk Allah. Dr. Harold G. Koening dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa orang yang teguh pada agama akan mendatangkan dampak positif terhadap kesehatan, menjadikan orang lebih sehat dan segar.
  4. Sabar menghadapi musibah, berarti bahwa orang tersebut selalu optimis, tidak pernah putus asa, dan selalu berserah diri pada Allah dalam menghadapi cobaan yang berupa kekurangan pangan, jatuh miskin (harta), mengalami kebangkrutan, ditinggal oleh orang yang dicintai, dan sebagainya. Orang yang selalu berserah diri kepada Allah, jiwanya akan menjadi tenang, tidak cemas dan takut dalam menghadapi cobaan.
  5. Sabar dari nafsu amarah, berarti bahwa orang yang mampu mengendalikan hawa nasfu amarah. Amarah akan menjadikan jiwa tidak tenang dan dada terasa sempit. Selain itu, orang yang sering marah mempunyai resiko tiga kali lipat terkena sakit jantung, stroke, dan darah tinggi. Saat marah, justru orang seperti menggali kuburan sendiri. Marah juga akan menghilangkan rasionalitas dan sifar bijak.

Dalam Al-Qur’an, sabar dikaitkan dengan berbagai hal yang positif bagi kehidupan manusia, antara lain:

  1. Sabar itu pintu sukses, sabar merupakan sikap ulet, tahan uji, tidak pernah putus asa, dan selalu optimis. Orang beriman yakin bahwa setelah kesulitan akan datang kemudahan. Dalam kenyataannya, orang yang sukses adalah yang memiliki keuletan, tahan uji, tidak pernah putus asa, dan selalu optimis.
  2. Sabar itu menyenangkan dan menggembirakan.
  3. Sabar itu disukai Allah swt. Hal ini telah dijelaskan pada Surah Ali Imran ayat 146 yang artinya Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar. Jika Allah mencintai kita, maka Allah akan menjadi penolong bagi kesulitan yang kita hadapi.
  4. Sabar itu lapang dada, karena orang yang sabar memiliki kejernihan pikiran, hati, dan perasaan.
  5. Sabar itu indah dan terbaik. Dengan kesabaran, hidup akan menjadi lebih nyaman, tentram, dan tenang. Aggota keluarga yang mempunyai kesabaran, rumah bagaikan surga –tempat yang nyaman, aman, damai, dan membahagiakan.
  6. Sabar itu optimis dan menyehatkan. Orang yang sabar itu tidak pernah putus asa, selalu optimis, dan berpikiran positif, sehingga hal tersebut menyehatkan tubuh.
  7. Sabar itu cahaya dan mencerahkan. Orang yang sabar adalah orang yang menggunakan hati nurani sebagai panglima dalam menentukan pilihan bertindak dan memiliki komitmen serta motivasi kepada kebenaran.
Categories: Makalah / Artikel

PROFIL AKU

wahyu budi nugroho


Popular Posts

Manfaat Gerakan Shal

Shalat adalah ibadah wajib yang tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi ...

Conversation

A NICE MEETING   Today is very hot. After Arabic class, I ...

Pembagian Ilmu Hadit

A.   PENDAHULUAN Bagi umat Islam, Hadis merupakan sumber pokok ajaran agama ...

Pesan Rahasia Di Bal

Terkejut saya saat berkunjung keblog MythDunia. Pada salah satu artikelnya ...

TEKNIK PENGUJIAN VAL

A.    PENDAHULUAN Evaluasi dalam pendidikan mempunyai fugsi yang sangat penting. Dikarenakan ...