EPISTEMOLOGI (FILSAFAT PENGETAHUAN)

  Pengetahuan   November 17, 2011

 

A. PENGERTIAN EPISTEMOLOGI

Epistemology berasal dari kata yunani episteme dan logos. Episteme : pengetahuan atau kebenaran,  dan logos : pikiran, kata atau teori. Epistemology secara etimologi (sebab-sebab) berarti teori pengetahuan yang benar dan lazimnya hanya disebut teori pengetahuan atau theory of knowledge.

Filsafat pengetahuan adalah cabang filsafat yang mempersoalkan masalah hakikat pengetahuan. Maksud dari filsafat pengetahuan adalah ilmu pengetahuan kefilsafatan yang secara khusus hendak memperoleh pengetahuan tentang hakikat pengetahuan.

Epistemologi adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan keshahihan pengetahuan. Jadi objek material epistemology adalah pengetahuan dan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan itu. Jadi sistematika penulisan epistemologi adalah arti pengetahuan, terjadinya pengetahuan, jenis-jenis pengetahuan dan asal-usul pengetahuan.

B. ARTI PENGETAHUAN

Pengetahuan adalah suatu istilah yg digunakan untuk menuturkan apabila seseorang mengenal tentang  sesuatu. Sesuatu yang menjadi pengetahuanya adalah yang terdiri dari unsur yang mengetahui dan yang diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin diketahuinya. Maka pengetahuan selalu menuntut adanya subyek yang mempunyai kesadaran untuk ingin mengetahui tentang sesuatu dan objek sebagai hal yang ingin diketahuinya. Jadi pengetahuan adalah hasil usaha manusia untuk memahami suatu objek tertentu.

Semua pengetahuan hanya dikenal dan ada dalam pikiran manusia, tanpa pikiran pengetahuan tidak bisa eksis. Jadi keterkaitan antara pengetahuan dengan pikiran merupakan sesuatu yang kodrati. Menurut Bahm (Rizal Mustansyir dkk, 2001).

 

  1. Mengamati (observes)

Pikiran berperan dalam mengamati obyek-obyek.

  1. Menyelidiki (inquires)

Dalam penyelidikan minatlah yang membimbing seseorang secara alamiah untuk terlibat kedalam pemahaman pada obyek-obyek

  1. Percaya (believes)

Sikap menerima sesuatu yang menampak sebagai pengertian yang memadai setelah keraguan, dinamakan keperyaan.

  1. Hasrat (desires)

Hasrat muncul dari kebutuhan jasmani (nahfsu makan, minum, istirahat, tidur) hasrat diri (keinginan pada obyek, kesenangan).

  1. Maksud (intends)

Kendatipun memiliki maksud ketika akan mengopservasi, menyelidiki, mempercayai, dan berhasrat.

  1. Mengatur (organizes)

Setiap pikiran adalah suatu organism yang teratur dalam diri seseorang.

  1. Menyesuaikan (adaps)

Menyesuaikan pikiran sekaligus melakukan pembatasan-pembatasan yang dibebankan pada pikiran melalui kondisi keberadaan.

  1. menikmati  (enjoys)

pikiran-pikiran mendatangkan keasyikan.

 

C. TERJADINYA PENGETAHUAN

Masalah terjadinya pengetahuan adl masalah yang amat penting

Alat untuk mengetahui pengetahuan ada 6 yaitu :

  1. Pengalaman indra (sense experience)

Pengalaman indra merupakan sumber pengetahuan yang berupa alat-alat untuk menangkap obyek dari luar diri manusia melalui kekuatan indra.

  1. Nalar (reason)

Salah satu corak berfikir dengan menggabungkan dua pemikiran atau lebih dengan maksud untuk mendapat pengetahuan baru.

  1. Otoritas (authority)

Kekuasaan yang syah yang dimiliki oleh seseorang dan diakui oleh kelompoknya.

  1. Intuisi (intuition)

Kemampuan yang ada pada diri manusia yang berupa proses kejiwaan dengan tanpa suatu rangsangan untuk membuat peryataan yang berupa pengetahuan.

  1. Wahyu (revelation)

Wahyu merupakan salah satu sumber pengetahuan karena kita mengenal sesuatu dengan melalui kepercayaan kita.

  1. Keyakinan (faith)

Kemampuan yang ada pada diri manusia yang diperoleh melalui kepercayaan.

 

 

 

D. JENIS-JENIS PENGETAHUAN               

Menurut Soejono Soemargono (1983), ada 2 jenis pengetahuan, antara lain :

  1. pengetahuan non-ilmiah

Segenap hasil pemahaman manusia atas atau mengenai obyek tertentu yang terdapat pada kehidupan sehari-hari

  1. pengetahuan ilmiah

Senenap hasil pemahaman manusia yang diperoleh dengan mengunakan metode ilmiah.

Menurut Plato dan Aristoteles. Plato membagi pengetahuan menurut tingkatan-tingkatan pengetahuan berdasarkan karakteristik objeknya, yaitu :

  1. Pengetahuan khayaan (eikasia)

Pengetahuan yang obyeknya berupa bayangan atau gambaran.

  1. Pengetahuan pistis (pistis)

Pengetahuan mengenai hal-hal yang tampak dalam dunia kenyataan atau hal-hal yang dapat diindrai secara langsung.

  1. Pengetahuan matematik (dianoya)

Tingkatan yang ada di dalamnya sesuatu yang tidak hanya terletak pada fakta atau obyek yang tampak, tetapi juga terletak pada bagaimna cara berfikirnya.

  1. Pengetahuan filsafat (noesis)

Berfikir tanpa mengunakan pertolongan gambar, diagram melainkan dengan pikiran yang sungguh-sungguh abstrak.

 

 

E. ASAL-USUL PENGETAHUAN

Asal-usul pengetahuan  termasuk hal yang sangat penting dalam epistemology. Untuk mendapatkan bagaimana pengetahuan itu muncul (berasal) bisa dilihat dari aliran-aliran dalam pengetahuan dan bisa dengan cara metode ilmiah, serta dari sarana diberfikir ilmiah.

  1. Aliran-aliran dalam pengetahuan

Dari mana pengetahuan itu berasal dan apa yg diyakini sebagai kebeneran bisa dilihat dari aliran dalam pengetahuan.  Dari aliran ini tampak jelas bagaimana pengatahuan itu berasal. Aliran itu yakni :

  1. Rasionalisme

Sumber pengetahuan yang mencukupi dan dapat dipercaya adalah rasio (akal).

  1. Empirisme

Pengalaman merupakan sumber pengetahuan, baik pengalaman batiniah maupun yang lahiriah.

  1. Kritisme

Paham yang mengutamakan kegiatan non-taklid buta terhadap segala hal.

  1. Positivisme

Segala ilmu pengetahuan adalah mengetahui untuk dapat melihat ke masa depan.

  1. Metode ilmiah
    1. Metode ilmiah yg bersifat umum dibagi dua, yaitu metode analitiko-sintesis dan metode non-deduksi. Metode analitiko-sintesis merupakan gabungan dari metode analisis dan metode sintesis. Metodenon-deduksi merupakan gabungan dari metode deduksi dan induksi.
    2. Metode penyelidikan ilmiah

Metode ini terbagi menjadi dua, yaitu metode penyelidikan yang berbentuk daur atau metode siklus empiris dan metode vertical atau yang berbentuk garis lempeng atau metode linier.

  1. Sarana berfikir ilmiah
    1. Bahasa ilmiah

a)      Penggolongan bahasa

Dalam penelaahan bahasa pada umumnya dibedakan antara bahasa alami dan bahasa buatan.

1)      Bahasa alami

Bahasa alami ialah bahasa sehari-hari yang biasa digunakan untuk menyatakan sesuatu, yang tumbuh atas dasar pengaruh alam sekelilingnya.Bahasa alami dibedakan atas dua macam, yakni bahasa isyarat dan bahasa biasa.

2)      Bahasa buatan

Bahasa buatan ialah bahasa yang disusun sedemikian rupa berdasarkan  pertimbangan akal pikiran untuk maksud tertentu.

b)      Fungsi bahasa

Aliran filsafat bahasa dan psikolinguistik melihat fungsi bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan emosi, sedangkan aliran sosiolinguistik berpendapat bahwa fungsi bahasa adalah sarana untuk perubahan masyarakat.

Secara umum bahasa memiliki tiga fungsi pokok, yaitu fungsi ekspresif atau emotif, fungsi afektif atau praktis, dan fungsi sibolik dan logik.

 

  1. Logika dan Matematika.

Logika dan matematika merupakan dua pengetahuan yang selalu berhubungan erat, yang keduanya sebagai sarana berfikir deduktif. Bahasa  yang digunakan adalah bahasa artificial, yakni murni bahasa buatan. Matematika dan logika sebagai sarana berfikir deduktif mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Logika lebih sederhana penalaraanya, sedangkan matematika sudah jauh lebih terperinci.

  1. Logika dan statistika

Secara etimologi kata statistic berasal dari kata status (bahasa latin) yang mempunyai persamaan arti  dengan kata state (bahasa inggris), yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan Negara.

Ditinjau dari segi terminology, statistic mengandung berbagai macam pengertian (Amsal Bakhtiar, 2004) yaitu sebagai berikut:

a)      Istilah statistic kadang diberi pengertian sebagai data ststistik.

b)      Sebagai kegiatan statistic atau kegiatan persstatistikan.

c)      Dapat juga diartikan sebagai metode statistic.

d)     Istilah statistic dewasa ini dapat diberi pengertian sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari dan memperkembanngkan secara ilmiah tahap-tahap yang ada dalam kegiatan statistic.

Logika dan statistic mempunyai peranan penting dalam berfikir induktif untuk mencari konsep yang berlaku umum. Penalaran induktif dalam bidang ilmiah yang bertitik tolak pada sejumlah hal khusus untuk sampai pada suatu rumusan umum sebagai hukum ilmiah, maka secara berurutan  sebagai proses penalaran dapatlah disusun sebagai berikut: observasi dan eksperimen, hipotesis ilmiah, vertifikasi dan pengukuhan,teori dan hukum ilmiah.

Jadi, peran statistic dalam kegiatan penelitian ilmiah(dalam Hartono Kasmadi,dkk)dapat dikemukakan sebagai berikut:

1)      Memungkinkan pencatatan data penelitian dengan eksak.

2)      Memandu peneliti untuk menganut tata pikir dan tata kerja yang definitif dan eksak.

3)      Menyajikan cara-cara meringkas data ke dalam bentuk yang bermakna lebih banyak dan lebih mudah mengerjakannya.

4)      Memberikan dasar – dasar untuk menarik kesimpulan melalui proses yang mengikuti tata cara yang diterima oleh ilmu.

5)      Memberikan landasan untuk meramalkan secara ilmiah tentang bagaimana suatu gejala akan terjadi dalam kondisi yang telah diketahui.

6)      Memungkinkan peneliti menganalisis, menguraikan sebab akibat yang kompleks dan rumit, andai kata tanpa statistic hal itu merupakan peristiwa  yang mmbingungkan dan bakal tidak dapat diuraikan.

 

F. Pembagian Epistemologi Ilmu Pendidikan.

Pada Umumnya Epistemologi Ilmu Pendidikan terdiri atas 2 pembahasan yaitu : Objek Formal Ilmu Pendidikan dan Objek Material Ilmu Pendidikan.

Pembahasan selanjutnya akan membahas tentang kedua hal tersebut, antara lain :

  1. Objek Formal Ilmu Pendidikan

Objek Formal Ilmu Pendidikan membahas tentang pendidikan, yang dapat diartikan secara maha luas, sempit, dan luas terbatas. Berikut akan disampaikan perbandingan ketiganya.

Tertuim Komparasionis

Maha Luas

Sempit

Luas Terbatas

Definisi Pendidikan adalah hidup. Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan hidup dan sepanjang hidup. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan seseorang. Pendidikan adalah persekolahan. Pendidikan adalah pengajaran yang diselenggarakan oleh sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau pelatihan yang berlangsung di sekolah maupun di luar sekolah untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan secara tepat dalam berbagai lingkungan hidup.
Tujuan Tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar, tidak ditentukan dari luar. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan. Tujuan pendidikan tidaklah terbatas. Tujuan pendidikan sama dengan tujuan hidup. Tujuan pendidikan ditentukan oleh pihak luar. Tujuan pendidikan terbatas pada pengembangan kemampuan – kemampuan tertentu. Tujuan pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik untuk dapat hidup di masyarakat. Tujuan pendidikan merupakan perpaduan antara perkembangan pribadi secara optimal dan tujuan sosial dapat memainkan peranan sosial secara tepat.
Tempat Pendidikan Pendidikan berlangsung dalam segala bentuk lingkungan hidup, baik khusus diciptakan untuk kepentingan pendidikan maupun lingkungan yang ada dengan sendirinya. Pendidikan berlangsung dalam lembaga formal berupa sekolah dengan segala bentuknya. Pendidikan berlangsung dalam sebagian lingkungan hidup.  Pendidikan tidak berlangsung dalam lingkungan hidup yang terselenggara dengan sendirinya. Pendidikan berlangsung di luar sekolah dan satuan pendidikan di luar lainnya.
Bentuk Kegiatan Pendidikan Pendidikan terentang dari kegiatan yang mistis atau tidak sengaja sampai dengan kegiatan pendidikan yang terprogam. Pendidikan berbentuk segala macam pengalaman belajar dalam hidup. Isi pendidikan tersusun secara terprogram dalam bentuk kurikulum. Kegiatan pendidikan lebih terorientasi pada guru. Guru mempunyai peranan yang sentral dan menentukan. Kegiatan dapat berupa pendidikan secara formal dan non-formal.
Masa Pendidikan Pendidikan berlangsung seumur hidup setiap saat selama ada pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan. Pendidikan berlangsung dalam waktu terbatas. Berlangsung seumur hidup namun terbatas pada usaha sadar.
Pendukung Kaum Humanis dan Kaum Moderat. Kaum Behavioris Kaum Realisme Kritis.

 

  1. Objek Material Ilmu Pendidikan.

Terdiri atas dua pembahasan yaitu tentang pendidikan sebagai sebuah sistem dan pendidikan seumur hidup.

  1. Pendidikan sebagai Sebuah Sistem

Pembahsan tentang pendidikan sebagai sebuah sistem sudah sepatutnya diawali dengan kegiatan pendidikan. Kegiatan pendidikan adalah kegiatan yang menjembatani antara kondisi-kondisi aktual dengan kondisi-kondisi ideal. Kegiatan pendidikan berlangsung dalam satuan waktu tertentu dan berbentuk dalam berbagai proses pendidikan, yang merupakan serangkaian kegiatan atau langkah-langkah yang digunakan untuk mengubah kondisi awal peserta didik sebagai masukan, menjadi kondisi-kondisi ideal sebagai hasilnya. Berawal dari segala kegiatan pendidikan itulah akan melahirkan sebuah sistem pendidikan yang mengatur segala proses pendidikan berada dalam lingkup formal dan tersistematis.

  1. Pendidikan Seumur Hidup

Dave dalam Lifelong Education and School Curriculum (1973) mencoba menggambarkan kerangka – kerja teoritis dan operasional pendidikan seumur hidup dalam empat tahap, yaitu deskripsi komponen-komponen hidup, deskripsi aspek-aspek dalam perjalanan sepanjang hidup, deskripsi pendidikan dan deskripsi sebuah sistem operasional pendidikan seumur hidup.

Hidup (life) mempunyai tiga komponen yang saling berhubungan satu dengan lainnya, yaitu individu, masyarakat dan lingkungan fisik.

Perjalanan manusia seumur hidup (lifelong) mengandung perkembangan dan perubahan yang mencakup tiga komponen yaitu tahap

1. Perkembangan individu (masa balita, masa kanak-kanak, masa sekolah, masa remaja, dan masa dewasa.

2. Peranan-peranan sosial yang umum dan unik dalam kehidupan yang berbeda-beda di setiap lingkungan hidup.

3. Aspek-aspek perkembangan kepribadian (fisik, mental, sosial dan emosional).

 

Sebuah sistem operasional pendidikan seumur hidup mencakup komponen-komponen :

  1. Tujuan-tujuan pendidikan seumur hidup
  2. Asumsi-asumsi yang mendasari pendidikan seumur hidup
  3. Prinsip-prinsip pembimbing untuk pengembangan sistem pendidikan seumur hidup
  4. Bentuk-bentuk belajar, yang terdiri atas pendidikan umum yang berlangsung formal dan non-formal dan pendidikan profesional yang formal dan non-formal.

Perpaduan antara empat komponen tersebut membentuk sebuah sistem-sistem belajar di rumah, sekolah, dan masyarakat. Sistem belajar ini terbentuk dari dua komponen yaitu menajemen pendidikan dan teknologi pendidikan yang mempunyai hubungan fungsional.

Hal –hal di atas menjadi sebuah indikasi yang nyata bahwasanya pendidikan seumur hidup selaras dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia serta sesuai dengan jenjang pendidikan yang sudah berjalan alami dan sistematis.

 

G. Kesimpulan

Dari berbagai hal yang sudah kami sampaikan dapat ditarik kesimpulan bahwasanya dalam belajar Filsafat Pendidikan ada satu komponen atau cabang penting yang patut untuk dipelajari yaitu Epistemologi pendidikan. Pada dasarnya epistemologi lebih mendalami kajian teoritis tentang makna dan esensi dari pengetahuan. Lalu mengapa kita harus belajar cabang filsafat yang satu ini ? jawabannya adalah karena dengan mengetahui hakikat, makna, dan esensi dari pengetahuan itu sendiri kita dapat mengambil sebuah pernyataan yang sebelumnya tersirat menjadi output proses berupa pernyataan tersurat. Kesemuanya itu bermula dari berfikir radikal, bermula dari rasa keingintahuan yang menggebu-gebu kemudian menyertakan logika sebagai alat yang fundamental dan pada akhirnya menghasilkan pemikiran-pemikiran yang filosofis dan mendalam tentang hakikat pengetahuan.

Demikian sekelumit tugas yang bisa kami persembahkan. Tentunya masih banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mudyahardjo, Redja. 2002.cet.2.Filsafat Ilmu Pendidikan. PT.Remaja Rosdakarya : Bandung. 2004.cet.3.Filsafat Ilmu Pendidikan. PT.Remaja Rosdakarya : Bandung

Saduloh , Uyoh. 2009. Filsafat Pendidikan. Alfabeta : Bandung

 

 

 

Leave a Reply